ALLAH SETURUT PANDANGAN KATOLIK; SEBUAH BERHALA?
(Menelisik Gagasan Karl Jaspers Mengenai Allah Sebagai
Simbol Untuk Sesuatu Yang Ilahi)
Florensius
Go’o (FIGO ACM)
STFK LEDALERO
Abstract:
Through the philosophical
grounding, Karl Jaspers
asserts that people know only thing that exist on a private time and space. God exists in time and space? The word in Scripture, creeds,
prayers and the dogma
is the symbol for
the devine. For him, word "God" is
simply the symbol (chifer) for a transcendence
that are untouched by human reason,
not to show certain
personal of a thing. Catholicism with his
rite include symbols to help people get to know the God they believe. Is
it really refers
to the symbol of a reality
or an idol
to the unknown? Many
people from other groups refer to it as a pagan
practice. But th catholics argues if the Catholic
religion that in the language of
Jaspers called as "chifer"
really true not because formulalated
but formulated because it is true. The Symbol is true not because justified but
because its true so it is formulated.
Then what is its justification?.
Kata-kata kunci: Berhala,
simbol, chifer, Allah
Pendahuluan
Ernest Maryanto (2004:
204-205), mengartikan simbol sebagai suatu tanda indrawi, barang atau tindakan,
yang menyatakan realita lain di luar dirinya. Ia melanjutkan, simbol memiliki
makna dan kandungan isi yang amat luas, karena itu merupakan sarana ulung untuk
mengungkapkan sesuatu tentang Allah. Seorang gadis protestan pernah bertanya
kepada teman saya, mengapa kamu umat Katolik menyembah patung Bunda Maria?
Bukankah itu merupakan suatu praktek berhala? Teman saya ini bingung untuk menjawab
pertanyaan dari sahabatnya yang beragama Protestan ini. Tetapi ia mencoba untuk
menjawab sejauh yang ia ketahui tentang dasar praktek seperti ini. Pertama-tama
ia menegaskan bahwa berhala berhubungan dengan penyembahan oleh karena itu
pertanyaan temannya itu benar. Tetapi ketika kita mampu membedakan antara
penyembahan dan penghormatan maka umat katolik sebenarnya tidak melakukan
praktek berhala. Ia melanjutkan jawabannya dengan berkata bahwa umat katolik
tidak pernah melakukan praktek penyembahan pada patung tetapi hanya sebuah
penghormatan. Kesimpulannya orang katolik tidak menyembah berhala. Diskusi
keduanya terhenti di sini. Patung di sini hanya berperan sebagai simbol
hadirnya Bunda Maria.
Saya merasa tidak terganggu
untuk sebuah sharing dari teman saya ini mengenai pertanyaan kritis dari teman
protestannya. Tetapi topik yang sama ini mengingatkan saya pada sosok
intelektual berpaham eksisitensial berkebangsaan Swiss, Karl Jaspers. Pemikiran
filosofisnya seputar Allah sebagai simbol untuk sesuatu yang ilahi cukup
kontroversial bagi saya sebagai seorang mahasiswa filsafat yang beragama
katolik. Jaspers, hemat saya hendak membuktikaan sebuah kesia-siaan. Baginya
tidak ada “Allah”, yang ada adalah yang ilahi, yang transenden dan yang ilahi
itu bukan Allah, Allah hadir sebagai simbol untuk yang ilahi. Bukan suatu masalah bagi saya
jika melihat setiap realitas yang ada dan kemudian seseorang secara kritis
menilai realitas itu sebagai simbol dari Allah. Tetapi ketika Jaspers melihat
Allah sebagai simbol untuk sesuatu yang lain dan kemudian dibuktikan dalam
pemikiran-pemikiran filosofisnya maka saya juga diajak untuk menilisik lebih
jauh secara rasional mengenai iman Katolik yang mengimani Allah sebagai Allah
yang menciptakan, Allah yang mengasihi, Allah yang mengenal umatnya, bukan
Allah seperti yang dimengerti oleh Jaspers sebagai chifer.
JASPERS: ALLAH SEBAGAI CHIFER BUKAN
UNSUR TRANSENDENSI
Jaspers menyebutkan bahwa
Allah hanyalah sebuah kata untuk menunjukan adanya sesuatu yang lain, sesuatu
yang ilahi. Allah yang ada dalam kitab suci bukanlah Allah yang dipahami
sebagai persona. Allah hanyalah simbol untuk sesuatu yang ilahi atau dalam bahasanya
ia sebut sebagai chifer (Ehrlich, 1975: 161). Orang Kristen mengimani Allah
sebagai kenyataan ilahi yang bersifat pribadi, namun bagi Jaspers kenyataan
ilahi itu lebih dari pribadi atau persona. Keilahian itu terlalu tinggi untuk
diberi nama dan dirangkum dalam konsep-konsep (Tjahjadi, 2007: 125). Oleh
karena itu ia menyebutnya sebagai sesuatu yang transenden, yang melampaui
segala sesuatu, melampaui akal dan pikiran manusia. Sehingga manusia
menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menggambarkan kehadiran yang ilahi itu
meski simbol-simbol yang digunakan masih sangat terbatas dan belum mampu
membahasakan keilahian itu secara sempurna.
Allah adalah bahasa
transendensi, ia menjadi kata atau simbol untuk yang ilahi itu. Karena yang
ilahi tidak terjamahkan oleh konsep atau nama tertentu maka kata Allah
digunakan sebagai chifer. Konsep chifer hanya digunakan untuk sesuatu yang tak
dapat diinterpretasi, atau tidak ada hal lain yang dapat menginterpretasi
tentang Allah selain menggunakan chifer itu sendiri (Ehrlich, 1975: 163). Mengenai
chifer, ada
empat ciri tentangnya,
1. Chifer mengacu pada
sesuatu yang berada di luar diri mereka sendiri.
2. Chifre membuka lapisan
realitas yang dapat dibuat terlihat dengan cara lain.
3. Pada prinsipnya, apapun
dapat menjadi chifer
4. Bahasa chifer terletak
pada tingkat yang berbeda dari bahasa ilmu pengetahuan.
Allah adalah simbol dari yang
ilahi , dari yang transenden itu. Dalam pengertian metafisis, Jaspers menyebutkan bahwa
simbol adalah objek. Simbol adalah objek pemikiran. Sehingga baginya simbol
adalah objek penentu. Objek penentu yang satu mempengaruhi objek yang lain.
Singkatnya sebuah simbol selalu menunjukan sesuatu yang lain (Ehrlich, 1975:
159). Chifer digunakan hanya untuk objek yang tidak dapat dilihat
atau yang tidak memiliki data-data empiris tentangnya. Karena alasan ini maka
Jaspers menyebutkan chifer sebagai bahasa untuk sesuatu yang mahaluas itu.
Jaspers pernah mengatakan “Saya lebih memilih 'chifer' sebagai 'symbol'. Cifer berarti 'bahasa', bahasa
aktualitas yang dapat
didengar” (Ehrlich, 1975:162). Karena tak terjamah oleh rasio
manusia maka manusia membutuhkan bahasa untuk mengerti tentang yang transenden
itu. Kata yang merujuk pada sesuatu yang transenden.
Bahasa
dalam filsafat Jaspers itu merujuk pada chifer-chifer. Allah dalam kitab suci,
Allah dalam dogma-dogma dan Allah dalam doa hanyalah sebuah kata, bukan suatu
persona. Chifer hanyala kata terbatas untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak
terbatas. Sesuatu di luar fisik dan intuisi yang realitasnya bukan
realitas dalam ruang dan waktu. Melalui dan dalam
chifer itu, keilahian menampakkan diri, namun sandi-sandi itu tidak boleh
diterjemahkan dalam sesuatu yang lain apalagi diidentikan dengannya (Tjahjadi,
2007: 125). Jaspers menolak
agama yang diwahyukan karena baginya tidak mungkin Tuhan berbicara dengan menggunakan
bahasa manusia.
Pemahaman
Jaspers tentang Allah mirip dengan tipe dasar gambaran Allah dalam agama-agama
apofatis yang menekankan aspek transedensi dari diri Allah. Perbedaannya hanya
terletak pada pemahaman tentang Allah, di mana Jaspers mempertahankannya
sebagai simbol belaka sementara agama apofatis tetap mengakui Allah sebagai
yang Ilahi. Agama apofatis (Buddis)
menganggap bahwa Allah ada dalam trasendensi absolut sehingga manusia hanya
bisa berbicara tentangNya tanpa menjadikannya objek. Jika tidak maka manusia
merendahkan Allah serta merusakkan keAllahanNya sebagai yang terakhir dan tak
terpahami (Kirchberger, 2012: 209-210).
Jaspers pernah berujar bahwa
apapun yang dikatakan mengenai Allah, ia tetap tak dapat dikenali dan
dicirikan. Jadi di sini Jaspers sebenarnya mau mengungkapkan bahwa manusia
tidak bisa menggapai yang transenden itu. Oleh karena itu yang transenden tak
bisa digambarkan. Yang dapat digambarkan hanyalah chifer, seperti ketika
manusia mampu melihat atau mengenal sesuatu melaui monumen batu (borobudur). Ia
melukiskan yang transenden tetapi ia sendiri ada dalam diam. Ia hanya
melukiskan apa yang ada di baliknya (Ehrlich, 1975: 171). Sehingga Allah
persona ditolak oleh Jaspers dengan alasan bahwa manusia seakan-akan sudah
menggapai yang ilahi dan transenden itu. Allah dalam kitab suci ditentang oleh
Jasper sebagai yang ilahi, Ia hanyalah chifer untuk yang ilahi dan belum tentu chifer
itu benar karena chifer hanyalah ciptaan manusia yang memiliki keterbatasan
pikiran. Karl Jaspers menyebut Allah hanya sebagai chifer (simbol) dari sesuatu
yang ilahi. Chifer hanyalah objek yang dapat dipikirkan, objek dari pemikiran,
seperti penggunaan simbol dalam matematika atau dalam hal-hal empiris lainnya.
Chifer ada pada fenomena realitas (Ehrlich, 1975: 158). Sehingga Allah bukanlah
unsur ilahi karena yang ilahi tak dapat disentuh akal manusia. Jadi Allah
hanyalah sebuah kata, bukan sesuatu daya di luar diri manusia. Allah adalah suatu
ungkapan atau tanda rahasia (chifer) untuk suatu kenyataan ilahi yang tidak
ternamai (Tjahjadi, 2007: 125).
Suatu pertanyaan untuk kita,
jika Allah yang diyakini seperti yang terungkap dalam Kitab Suci dan dogma-dogma
hanyalah sebuah ciptaan manusia seturut pemikiran filosofis Karl Jaspers maka
apakah umat Katolik melakukan praktek berhala? Secara kritis Jaspers mau
menegaskan bahwa Allah yang disembah adalah sebuah kata, sebuah simbol (chifer)
bukan sesuatu yang disimbolkan yaitu yang ilahi dan transenden.
ALLAH DALAM TEOLOGI KATOLIK:
TRANSENDEN DAN IMANEN
Menanggapi pemikiran
filosofis Jasper yang melihat Allah hanya sebagai simbol belaka, Tjahjadi
mengajukan pertanyaan mendasar tentangnya. Iman dan kepercayaan manusia
membutuhkan hal konkret dalam ruang dan waktu (Tjahjadi, 2007: 128).
Trasendensi tentu akan kabur jika tidak memiliki sosok konkret dalam sejarah
yang memperlihatkannya. Seharusnya ada sesuatu atau tanda dalam sejarah yang
memperlihatkan transednsi Allah, tanda yang memiliki daya ikat dan memiliki
tolak ukur bagi gambaran tentang yang transenden yang sesuai dengan kemanusiaan
kita. Sehingga Allah tidak dapat dilihat sebagai chifer. Allah bukan sekedar
kata untuk melukiskan sesuatu yang ilahi tetapi Allah sendiri adalah yang
Ilahi. Dan sejarah itu terbukti dalam cerita-cerita biblis. Hal paling nyata
yang terungkap dalam cerita biblis adalah proses penciptaan manusia. Dalam
proses penciptaan Allah sungguh menunjukan siapa diriNya, diri yang dapat
dikenal.
Ketika Jaspers menyebut bahwa
Allah dalam Kitab Suci dan dalam dogma hanyalah simbol atau kata, ia berhadapan
dengan kenyataan biblis yang secara jelas melukiskan Allah sebagai Allah yang
sungguh-sungguh Allah, Allah yang berhubungan dengan manusia secara persona.
Allah dalam cerita biblis menjadi dasar penetapan dogma-dogma. Karena dogma
memiliki dasar biblis maka kebenaranya tidak dapat diragukan lagi. Dogma itu
benar bukan karena diformulasikan tetapi ia diformulasikan karena ia berdasar
pada yang benar. Ada kebenaran rasional dalam dogma (Tjahjadi, 2007: 129).
Iman Katolik mengakui Allah
sebagai Allah yang transenden sekaligus imanen, Allah yang tidak dapat
terjamahkan sekaligus sangat dekat dengan manusia. Sebagai Allah yang benar-benar
ilahi dan dekat dengan manusia, dapat dibuktikan dalam kisah penciptaan. Untuk
menciptakan manusia, Allah mengambil keputusan secara khusus dan menciptakan
manusia menurut ganbaranNya. Allah menciptakan manusia sebagai pribadi yang
berdialog denganNya secara sadar (Kirchberger, 2007: 257). Dari uraian ini kita
dapat menilai baahwa Allah bukanlah chifer seperti yang dikatakan Jaspers dalam
pemikiran filososfisnya. Ia bukan sekedar kata untuk menunjukan sesuatu yang
transenden dan ilahi tetapi Ia adalah Dia yang Transenden dan ilahi itu.
Allah tidak hadir dalam kata
atau chifer-chifer tetapi Ia sungguh-sungguh hadir di dalam dunia ini. Ia
memenuhi dunia, dan oleh karena itu manusia dapat mengenal Allah dalam segala
hal di dunia. Allah itu transenden sekaligus dapat dikenal karena Ia hadir
dalam dunia dan dekat dengan manusia. Agar mengenal dan mengalami Allah yang
transenden, orang harus mengambil bagian dalam dunia dan realitas yang
ditampakannya, manusia harus terlibat secara aktif dalam setiap realitas dunia
(Knitter, 2005: 185).
Jadi dalam iman katolik
pandangan tentang Allah bertolak belakang dengan Allah sebagai chifer dalam
pemahaman Karl Jaspers. Iman katolik mengakui Allah sebagai Allah yang ilahi
dan transenden sekaligus dekat dengan manusia. Pendasaran biblis membuktikan
bahwa Allah sungguh Allah bukan sebagai wadah untuk mengerti unsur ilahi
lainnya.
MENYEMBAH ALLAH BUKAN SUATU PRAKTEK
BERHALA
Seturut pemahaman Jaspers
megenai Allah yang hanya terbatas pada kata atau simbol belaka maka benar jika
orang katolik menjalankan praktek berhala. Umat katolik tidak menyembah sesuatu
yang ilahi sebagai wujud yang tertinggi tetapi semata-mata menyembah sebuah
kata “Allah”. Tetapi Jaspers tidak memiliki argumentasi yang mendasar tentang
yang ilahi. Tekanan yang terlalu kuat pada aspek misteri, sifat tidak terpahami
dan karakter ahistoris dari Allah melarang Japers mencirikan lebih jauh
transedensiNya (Tjahjadi, 2007: 129). Transedensi akan kabur jika tidak ada
bentuk konkrit dalam sejarah. Jaspers menolak Allah yang ada dalam sejarah
seperti terlukis dalam cerita biblis, padahal Allah sungguh menampakkan dirinya
dalam sejarah. Hal ini terlukis jelas dalam kisah penciptaan di mana Allah
menciptakan manusia seturut citranya dan membangun suatu hubungan personal
dengan dunia ciptaanNya.
Allah menciptakan hubunganNya
dengan dunia secara personal. Allah memanggil dunia ke dalam keberadaan dan
dunia menjawab panggilan itu dengan berada (Kirchberger, 2007: 257). Dialog
yang terjadi antara Allah dengan dunia menunjukan bahwa keduanya saling
mengenal satu sama lain. Uraian ini mematahkan pendapat Jaspers yang menyebut
bahwa “apapun yang kita katakan mengenai Allah, Ia tetap tidak bisa dikenali
atau dicirikan” (Tjahjadi, 2007: 126).
Dengan demikian pendapat Jaspers
yang menyebut Allah sebagai chifer tidak dapat diterima sebagai sebuah
kebenaran. Allah bukan kata untuk menggambarkan suatu sosok lain yang
transenden, tetapi Allah adalah DiriNya, Dia yang Ilahi, Transenden sekaligus
dekat dan dikenali oleh manusia. Inilah yang seharusnya diterima sebagai
kebenaran.
Apakah orang Katolik
menyembah berhala? Apakah mereka berhala pada sebuah kata “Allah”? Dari
uraian-uraian yang sudah dipaparkan di atas maka saya mengambil kesimpulan
bahwa umat Katolik tidak melakukan penyembahan berhala. Mereka menyembah pada
Allah yang ilahi, transenden dan dekat dengan mereka. Dalam imannya umat
katolik menyembah Allah yang sungguh-sungguh ada dan dikenali, Allah yang
berdialog dengan manusia dalam suatu hubungan yang personal.
PENUTUP
Gagasan
Jaspers tentang Allah sebagai chifer untuk sesuatu yang transenden dan ilahi
tak dapat diterima sebagai kebenaran dalam iman katolik. Ajaran dalam gereja
Katolik mengakui Allah sebagai Allah Ilahi, Transenden dan dekat dengan
manusia. Allah dalam ajaran Katolik adalah Allah yang membangun dialog dengan
umatnya, Allah yang dapat dipikirkan meski tak dapat dimengerti secara tuntas
misteri keilahianNya. Sehingga penyembahan Umat Katolik terhadap Allah yang
mereka imani bukanlah suatu praktek berhala. Sebab Allah dalam agama Katolik
bukanlah Allah yang terbatas pada kata “Allah” atau Allah yang mengabdi pada
chifer, tetapi Allah yang mencipta dan yang membangun hubungan persona dengan
manusia ciptaanNya.
DAFTAR PUSTAKA
Ehrlich, Leonard H. Karl
Jaspers: Philosophy as Faith. Massachusetts: University of Massachusetts Press, 1975.
Kirchberger, Georg. Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kristiani. Maumere:
Ledalero, 2007.
Knitter, Paul F. Menggugat Arogansi Kekristenan. Yogyakarta:
Kanisius, 2005.
Maryanto,
Ernest. Kamus Liturgi Sederhana. Yogyakarta:
Kanisisus, 2004.
Tjahjadi, Simon Petrus L. Tuhan
Para Filsuf dan Ilmuwan. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar