Rabu, 06 Februari 2013

SIMBOL ALLAH..JASPERS-FIGO


ALLAH  SETURUT PANDANGAN KATOLIK; SEBUAH BERHALA?
(Menelisik Gagasan Karl Jaspers Mengenai Allah Sebagai Simbol Untuk Sesuatu Yang Ilahi)
Florensius Go’o (FIGO ACM)
STFK LEDALERO

Abstract: Through the philosophical grounding, Karl Jaspers asserts that people know only thing that exist on a private time and space. God exists in time and space? The word in Scripture, creeds, prayers and the dogma is the symbol for the devine. For him,  word "God" is simply the symbol (chifer) for a transcendence that are untouched by human reason, not to show certain personal of a thing. Catholicism with his rite include symbols to help people get to know the God they believe. Is it really refers to the symbol of a reality or an idol to the unknown? Many people from other groups refer to it as a pagan practice. But th catholics argues if the Catholic religion that in the language of Jaspers  called as "chifer" really true not because formulalated but formulated because it is true. The Symbol is true not because justified but because its true so it is formulated. Then what is its justification?.
Kata-kata kunci: Berhala, simbol, chifer, Allah

Pendahuluan
                   Ernest Maryanto (2004: 204-205), mengartikan simbol sebagai suatu tanda indrawi, barang atau tindakan, yang menyatakan realita lain di luar dirinya. Ia melanjutkan, simbol memiliki makna dan kandungan isi yang amat luas, karena itu merupakan sarana ulung untuk mengungkapkan sesuatu tentang Allah. Seorang gadis protestan pernah bertanya kepada teman saya, mengapa kamu umat Katolik menyembah patung Bunda Maria? Bukankah itu merupakan suatu praktek berhala? Teman saya ini bingung untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya yang beragama Protestan ini. Tetapi ia mencoba untuk menjawab sejauh yang ia ketahui tentang dasar praktek seperti ini. Pertama-tama ia menegaskan bahwa berhala berhubungan dengan penyembahan oleh karena itu pertanyaan temannya itu benar. Tetapi ketika kita mampu membedakan antara penyembahan dan penghormatan maka umat katolik sebenarnya tidak melakukan praktek berhala. Ia melanjutkan jawabannya dengan berkata bahwa umat katolik tidak pernah melakukan praktek penyembahan pada patung tetapi hanya sebuah penghormatan. Kesimpulannya orang katolik tidak menyembah berhala. Diskusi keduanya terhenti di sini. Patung di sini hanya berperan sebagai simbol hadirnya Bunda Maria.
                   Saya merasa tidak terganggu untuk sebuah sharing dari teman saya ini mengenai pertanyaan kritis dari teman protestannya. Tetapi topik yang sama ini mengingatkan saya pada sosok intelektual berpaham eksisitensial berkebangsaan Swiss, Karl Jaspers. Pemikiran filosofisnya seputar Allah sebagai simbol untuk sesuatu yang ilahi cukup kontroversial bagi saya sebagai seorang mahasiswa filsafat yang beragama katolik. Jaspers, hemat saya hendak membuktikaan sebuah kesia-siaan. Baginya tidak ada “Allah”, yang ada adalah yang ilahi, yang transenden dan yang ilahi itu bukan Allah, Allah hadir sebagai simbol untuk yang ilahi. Bukan suatu masalah bagi saya jika melihat setiap realitas yang ada dan kemudian seseorang secara kritis menilai realitas itu sebagai simbol dari Allah. Tetapi ketika Jaspers melihat Allah sebagai simbol untuk sesuatu yang lain dan kemudian dibuktikan dalam pemikiran-pemikiran filosofisnya maka saya juga diajak untuk menilisik lebih jauh secara rasional mengenai iman Katolik yang mengimani Allah sebagai Allah yang menciptakan, Allah yang mengasihi, Allah yang mengenal umatnya, bukan Allah seperti yang dimengerti oleh Jaspers sebagai chifer.



JASPERS: ALLAH SEBAGAI CHIFER BUKAN UNSUR TRANSENDENSI
                   Jaspers menyebutkan bahwa Allah hanyalah sebuah kata untuk menunjukan adanya sesuatu yang lain, sesuatu yang ilahi. Allah yang ada dalam kitab suci bukanlah Allah yang dipahami sebagai persona. Allah hanyalah simbol untuk sesuatu yang ilahi atau dalam bahasanya ia sebut sebagai chifer (Ehrlich, 1975: 161). Orang Kristen mengimani Allah sebagai kenyataan ilahi yang bersifat pribadi, namun bagi Jaspers kenyataan ilahi itu lebih dari pribadi atau persona. Keilahian itu terlalu tinggi untuk diberi nama dan dirangkum dalam konsep-konsep (Tjahjadi, 2007: 125). Oleh karena itu ia menyebutnya sebagai sesuatu yang transenden, yang melampaui segala sesuatu, melampaui akal dan pikiran manusia. Sehingga manusia menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menggambarkan kehadiran yang ilahi itu meski simbol-simbol yang digunakan masih sangat terbatas dan belum mampu membahasakan keilahian itu secara sempurna.
                   Allah adalah bahasa transendensi, ia menjadi kata atau simbol untuk yang ilahi itu. Karena yang ilahi tidak terjamahkan oleh konsep atau nama tertentu maka kata Allah digunakan sebagai chifer. Konsep chifer hanya digunakan untuk sesuatu yang tak dapat diinterpretasi, atau tidak ada hal lain yang dapat menginterpretasi tentang Allah selain menggunakan chifer itu sendiri (Ehrlich, 1975: 163). Mengenai chifer, ada empat ciri tentangnya,
                   1. Chifer mengacu pada sesuatu yang berada di luar diri mereka sendiri.
                   2. Chifre membuka lapisan realitas yang dapat dibuat terlihat dengan cara lain.
                   3. Pada prinsipnya, apapun dapat menjadi chifer
                   4. Bahasa chifer terletak pada tingkat yang berbeda dari bahasa ilmu pengetahuan.
                  
                   Allah adalah simbol dari yang ilahi , dari yang transenden itu. Dalam pengertian metafisis, Jaspers menyebutkan bahwa simbol adalah objek. Simbol adalah objek pemikiran. Sehingga baginya simbol adalah objek penentu. Objek penentu yang satu mempengaruhi objek yang lain. Singkatnya sebuah simbol selalu menunjukan sesuatu yang lain (Ehrlich, 1975: 159). Chifer digunakan hanya untuk objek yang tidak dapat dilihat atau yang tidak memiliki data-data empiris tentangnya. Karena alasan ini maka Jaspers menyebutkan chifer sebagai bahasa untuk sesuatu yang mahaluas itu. Jaspers pernah mengatakan “Saya lebih memilih 'chifer' sebagai 'symbol'. Cifer berarti 'bahasa', bahasa aktualitas yang dapat didengar” (Ehrlich, 1975:162). Karena tak terjamah oleh rasio manusia maka manusia membutuhkan bahasa untuk mengerti tentang yang transenden itu. Kata yang merujuk pada sesuatu yang transenden.
                   Bahasa dalam filsafat Jaspers itu merujuk pada chifer-chifer. Allah dalam kitab suci, Allah dalam dogma-dogma dan Allah dalam doa hanyalah sebuah kata, bukan suatu persona. Chifer hanyala kata terbatas untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak terbatas. Sesuatu di luar fisik dan intuisi yang realitasnya bukan realitas dalam ruang dan waktu.  Melalui dan dalam chifer itu, keilahian menampakkan diri, namun sandi-sandi itu tidak boleh diterjemahkan dalam sesuatu yang lain apalagi diidentikan dengannya (Tjahjadi, 2007: 125). Jaspers menolak agama yang diwahyukan karena baginya tidak mungkin Tuhan berbicara dengan menggunakan bahasa manusia.
                   Pemahaman Jaspers tentang Allah mirip dengan tipe dasar gambaran Allah dalam agama-agama apofatis yang menekankan aspek transedensi dari diri Allah. Perbedaannya hanya terletak pada pemahaman tentang Allah, di mana Jaspers mempertahankannya sebagai simbol belaka sementara agama apofatis tetap mengakui Allah sebagai yang Ilahi.  Agama apofatis (Buddis) menganggap bahwa Allah ada dalam trasendensi absolut sehingga manusia hanya bisa berbicara tentangNya tanpa menjadikannya objek. Jika tidak maka manusia merendahkan Allah serta merusakkan keAllahanNya sebagai yang terakhir dan tak terpahami (Kirchberger, 2012: 209-210).

                   Jaspers pernah berujar bahwa apapun yang dikatakan mengenai Allah, ia tetap tak dapat dikenali dan dicirikan. Jadi di sini Jaspers sebenarnya mau mengungkapkan bahwa manusia tidak bisa menggapai yang transenden itu. Oleh karena itu yang transenden tak bisa digambarkan. Yang dapat digambarkan hanyalah chifer, seperti ketika manusia mampu melihat atau mengenal sesuatu melaui monumen batu (borobudur). Ia melukiskan yang transenden tetapi ia sendiri ada dalam diam. Ia hanya melukiskan apa yang ada di baliknya (Ehrlich, 1975: 171). Sehingga Allah persona ditolak oleh Jaspers dengan alasan bahwa manusia seakan-akan sudah menggapai yang ilahi dan transenden itu. Allah dalam kitab suci ditentang oleh Jasper sebagai yang ilahi, Ia hanyalah chifer untuk yang ilahi dan belum tentu chifer itu benar karena chifer hanyalah ciptaan manusia yang memiliki keterbatasan pikiran. Karl Jaspers menyebut Allah hanya sebagai chifer (simbol) dari sesuatu yang ilahi. Chifer hanyalah objek yang dapat dipikirkan, objek dari pemikiran, seperti penggunaan simbol dalam matematika atau dalam hal-hal empiris lainnya. Chifer ada pada fenomena realitas (Ehrlich, 1975: 158). Sehingga Allah bukanlah unsur ilahi karena yang ilahi tak dapat disentuh akal manusia. Jadi Allah hanyalah sebuah kata, bukan sesuatu daya di luar diri manusia. Allah adalah suatu ungkapan atau tanda rahasia (chifer) untuk suatu kenyataan ilahi yang tidak ternamai (Tjahjadi, 2007: 125).
                   Suatu pertanyaan untuk kita, jika Allah yang diyakini seperti yang terungkap dalam Kitab Suci dan dogma-dogma hanyalah sebuah ciptaan manusia seturut pemikiran filosofis Karl Jaspers maka apakah umat Katolik melakukan praktek berhala? Secara kritis Jaspers mau menegaskan bahwa Allah yang disembah adalah sebuah kata, sebuah simbol (chifer) bukan sesuatu yang disimbolkan yaitu yang ilahi dan transenden.

ALLAH DALAM TEOLOGI KATOLIK: TRANSENDEN DAN IMANEN
                   Menanggapi pemikiran filosofis Jasper yang melihat Allah hanya sebagai simbol belaka, Tjahjadi mengajukan pertanyaan mendasar tentangnya. Iman dan kepercayaan manusia membutuhkan hal konkret dalam ruang dan waktu (Tjahjadi, 2007: 128). Trasendensi tentu akan kabur jika tidak memiliki sosok konkret dalam sejarah yang memperlihatkannya. Seharusnya ada sesuatu atau tanda dalam sejarah yang memperlihatkan transednsi Allah, tanda yang memiliki daya ikat dan memiliki tolak ukur bagi gambaran tentang yang transenden yang sesuai dengan kemanusiaan kita. Sehingga Allah tidak dapat dilihat sebagai chifer. Allah bukan sekedar kata untuk melukiskan sesuatu yang ilahi tetapi Allah sendiri adalah yang Ilahi. Dan sejarah itu terbukti dalam cerita-cerita biblis. Hal paling nyata yang terungkap dalam cerita biblis adalah proses penciptaan manusia. Dalam proses penciptaan Allah sungguh menunjukan siapa diriNya, diri yang dapat dikenal.
                   Ketika Jaspers menyebut bahwa Allah dalam Kitab Suci dan dalam dogma hanyalah simbol atau kata, ia berhadapan dengan kenyataan biblis yang secara jelas melukiskan Allah sebagai Allah yang sungguh-sungguh Allah, Allah yang berhubungan dengan manusia secara persona. Allah dalam cerita biblis menjadi dasar penetapan dogma-dogma. Karena dogma memiliki dasar biblis maka kebenaranya tidak dapat diragukan lagi. Dogma itu benar bukan karena diformulasikan tetapi ia diformulasikan karena ia berdasar pada yang benar. Ada kebenaran rasional dalam dogma (Tjahjadi, 2007: 129).
                   Iman Katolik mengakui Allah sebagai Allah yang transenden sekaligus imanen, Allah yang tidak dapat terjamahkan sekaligus sangat dekat dengan manusia. Sebagai Allah yang benar-benar ilahi dan dekat dengan manusia, dapat dibuktikan dalam kisah penciptaan. Untuk menciptakan manusia, Allah mengambil keputusan secara khusus dan menciptakan manusia menurut ganbaranNya. Allah menciptakan manusia sebagai pribadi yang berdialog denganNya secara sadar (Kirchberger, 2007: 257). Dari uraian ini kita dapat menilai baahwa Allah bukanlah chifer seperti yang dikatakan Jaspers dalam pemikiran filososfisnya. Ia bukan sekedar kata untuk menunjukan sesuatu yang transenden dan ilahi tetapi Ia adalah Dia yang Transenden dan ilahi itu.
                   Allah tidak hadir dalam kata atau chifer-chifer tetapi Ia sungguh-sungguh hadir di dalam dunia ini. Ia memenuhi dunia, dan oleh karena itu manusia dapat mengenal Allah dalam segala hal di dunia. Allah itu transenden sekaligus dapat dikenal karena Ia hadir dalam dunia dan dekat dengan manusia. Agar mengenal dan mengalami Allah yang transenden, orang harus mengambil bagian dalam dunia dan realitas yang ditampakannya, manusia harus terlibat secara aktif dalam setiap realitas dunia (Knitter, 2005: 185).
                   Jadi dalam iman katolik pandangan tentang Allah bertolak belakang dengan Allah sebagai chifer dalam pemahaman Karl Jaspers. Iman katolik mengakui Allah sebagai Allah yang ilahi dan transenden sekaligus dekat dengan manusia. Pendasaran biblis membuktikan bahwa Allah sungguh Allah bukan sebagai wadah untuk mengerti unsur ilahi lainnya.

MENYEMBAH ALLAH BUKAN SUATU PRAKTEK BERHALA
                   Seturut pemahaman Jaspers megenai Allah yang hanya terbatas pada kata atau simbol belaka maka benar jika orang katolik menjalankan praktek berhala. Umat katolik tidak menyembah sesuatu yang ilahi sebagai wujud yang tertinggi tetapi semata-mata menyembah sebuah kata “Allah”. Tetapi Jaspers tidak memiliki argumentasi yang mendasar tentang yang ilahi. Tekanan yang terlalu kuat pada aspek misteri, sifat tidak terpahami dan karakter ahistoris dari Allah melarang Japers mencirikan lebih jauh transedensiNya (Tjahjadi, 2007: 129). Transedensi akan kabur jika tidak ada bentuk konkrit dalam sejarah. Jaspers menolak Allah yang ada dalam sejarah seperti terlukis dalam cerita biblis, padahal Allah sungguh menampakkan dirinya dalam sejarah. Hal ini terlukis jelas dalam kisah penciptaan di mana Allah menciptakan manusia seturut citranya dan membangun suatu hubungan personal dengan dunia ciptaanNya.
                   Allah menciptakan hubunganNya dengan dunia secara personal. Allah memanggil dunia ke dalam keberadaan dan dunia menjawab panggilan itu dengan berada (Kirchberger, 2007: 257). Dialog yang terjadi antara Allah dengan dunia menunjukan bahwa keduanya saling mengenal satu sama lain. Uraian ini mematahkan pendapat Jaspers yang menyebut bahwa “apapun yang kita katakan mengenai Allah, Ia tetap tidak bisa dikenali atau dicirikan” (Tjahjadi, 2007: 126).
                   Dengan demikian pendapat Jaspers yang menyebut Allah sebagai chifer tidak dapat diterima sebagai sebuah kebenaran. Allah bukan kata untuk menggambarkan suatu sosok lain yang transenden, tetapi Allah adalah DiriNya, Dia yang Ilahi, Transenden sekaligus dekat dan dikenali oleh manusia. Inilah yang seharusnya diterima sebagai kebenaran.
                   Apakah orang Katolik menyembah berhala? Apakah mereka berhala pada sebuah kata “Allah”? Dari uraian-uraian yang sudah dipaparkan di atas maka saya mengambil kesimpulan bahwa umat Katolik tidak melakukan penyembahan berhala. Mereka menyembah pada Allah yang ilahi, transenden dan dekat dengan mereka. Dalam imannya umat katolik menyembah Allah yang sungguh-sungguh ada dan dikenali, Allah yang berdialog dengan manusia dalam suatu hubungan yang personal.

PENUTUP
                   Gagasan Jaspers tentang Allah sebagai chifer untuk sesuatu yang transenden dan ilahi tak dapat diterima sebagai kebenaran dalam iman katolik. Ajaran dalam gereja Katolik mengakui Allah sebagai Allah Ilahi, Transenden dan dekat dengan manusia. Allah dalam ajaran Katolik adalah Allah yang membangun dialog dengan umatnya, Allah yang dapat dipikirkan meski tak dapat dimengerti secara tuntas misteri keilahianNya. Sehingga penyembahan Umat Katolik terhadap Allah yang mereka imani bukanlah suatu praktek berhala. Sebab Allah dalam agama Katolik bukanlah Allah yang terbatas pada kata “Allah” atau Allah yang mengabdi pada chifer, tetapi Allah yang mencipta dan yang membangun hubungan persona dengan manusia ciptaanNya.




DAFTAR PUSTAKA

Ehrlich, Leonard H.   Karl Jaspers: Philosophy as Faith.  Massachusetts: University of Massachusetts Press, 1975.

Kirchberger, Georg. Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kristiani. Maumere: Ledalero, 2007.
Knitter, Paul F. Menggugat Arogansi Kekristenan. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Maryanto, Ernest. Kamus Liturgi Sederhana. Yogyakarta: Kanisisus, 2004.
Tjahjadi, Simon Petrus L.  Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan. Yogyakarta: Kanisius, 2007.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar