Rabu, 06 Februari 2013

MUSEUM BIKON BLEWUT


SEPUTAR MUSEUM BIKON BLEWUT
FIGO
STFK LEDALERO

1.       Kapan berdirinya Museum BIKON BLEWUT?
MUSEUM bikon BLEWUT didirikan pada tahun 1983 di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Pada mulanya Museum ini hanya merupakan sebuah gedung kecil yang digunakan untuk menyimpan beranekaragam halis penemuan. Seiring dengan perjalanan waktu Gedung Museum Bikon Blewut juga direnovasi dan mengalami perubahan sana sini, hingga hari ini pihak Ledalero sudah mendirikan sebuah gedung baru yang sangat tepat untuk menyimpan benda-benda Purba.
2.       Mengapa diberi nama BIKON BLEWUT
Pater Piet Petu SVD , seorang peneliti sosial sekaligus curator Museum memberikan nama pada Musem ini dengan sebutan “BIKON BLEWUT”. Nama BIKON BLEWUT dipilih oleh Pater dengan alasan karena nama ini sungguh menggambarkan atau menafsirkan “kekayaan budaya Flores yang tersembunyi”. Hal ini terungkap melalui syair adat budaya Sikka Krowe berikut ini:
                Saing gun saing nulun,                                                 sejak saman dahulu
                Saing bikon saing blewut;                                            sejak zaman masih purba
                Saing atu wu’an nurak                                                  ketika bumi masih rapuh
                Saing tana puhun kleruk                                              ketika tanah masih muda
                De’ot reta wulan wutu,                                                 Tuhan di angkasa menciptakan
                                                                                                                langit dan bumi
                Kela bekong nian tana                                                  bulan dan matahari
3.       Siapa yang mendirikan Museum BIKON BLEWUT
Ada banyak orang khususnya Misionaris SVD yang menemukan barang-barang purbakala yang sekarang terkoleksi di Museum BIKON BLEWUT. Sebelumnya  sejak tahun 1950-1965 hasi-hasil penemuan ini di simpan di Seminari Mataloko. Tetapi  pada tahun 1975, Drs. Guus Cremmers, SVD memindahkan seluruhnya ke Ledalero (STFK). IA MERAWATNYA DENGAN BAIK HINGGA datangnya Pater Piet Petu ke Ledalero. Di tangan Pater Piet inilah seluruh Koleksi ditata secara sistematis dan teratur serta di sebuah gedung kecil khusus untuk hasil-hasil penemuan. Gedung inilah yang dipakai Pater Piet untuk menyimpan benda-benda purba ini kemudian dikenal sebagai museum.
Jadi Museum BIKON BLEWUT didirikan oleh Pater  Drs. Piet Petu SVD pada tahun 1983.
4.       Alasan berdirinya Museum BIKON BLEWUT
Alasannya karena  sebelum didirikannya Museum BIKON BLEWUT benda-benda purba ini tidak dikenal secara langsung dan umum oleh masyarakat lokal, nasional dan internasional  serta belum ditata atau dikelola secara sistematis dan teratur serta disimpan pada tempat yang terpisah-pisah. Orang hanya mengenalnya lewat laporan-laporan ilmiah dan berita-berita di media massa. Untuk itu agar masyarakat luas dapat mengenalnya secara langsung maka didirikannya sebuah museum sebagai tempat khusus untuk menyimpan benda-benda purba agar mudah diakses.
5.       Apa yang menjadi keunikan Museum BIKON BLEWUT
Keunikan Museum BIKON BLEWUT terletak pada hasil koleksinya yang beraneka ragam, mulai dari alat-alat kebudayaan prasejarah zaman palaeolithicum (batu muda), zaman perunggu, zaman batu mulia, dan fosil-fosil fauna dan flora hingga koleksi-koleksi seni budaya masyarakat Flores dan NTT pada era moderen.
6.       Sebutkan kategori hasil-hasil penemuan yang terkoleksi di Museum BIKON BLEWUT dengan sedikit penjelasannya
Ada enam kategori hasil penemuan yang terkoleksi di Museum BIKON BLEWUT.
Ø  Temuan alat-alat kebudayaan neolithicum
Alat-alat ini ditemukan pada penduduk-penduduk lokal dan di bekas kampung lama, seperti kapak lonjong, kapak persegi panjang dan kapak berperunggu.
Ø  Temuan budaya Flake dan Blade
Mereka berdua yang menemukan alat-alat batu dan tengkorak serta tulang belulang manusia purba. Kerangka-kerangka ini kemudian ditetapkan dengan nama Proto Negrito.
Ø  Temuan warisan budaya Dongson.
Temuan itu berupa keris dan golok yang terbuat dari perunggu (Menge, Ngada),  kapak perunggu (Guru, Sikka), watu weti (Nua Mbiko, Ende), Mokko (Alor).
Ø  Temuan di bidang Paleoantropologis
Temuan berupa tengkorak, rahang dan tulang belulang manusia yang berbentuk pendek
Ø  Temuan bidang Paleontologis
Temuan berupa kerangka tikus raksasa, landak, babi rusa, kijang, lembu, kera, kalong, kerang dan siput.
Ø  Alat-alat lower Paleolithic
Berupa fosil vertebrata, fosil tumbuhan dan jenis siput
7.       Sebutkan nama koleksi fosil-fosil manusia purba Flores yang ada di Museum BIKON BLEWUT.
Nama-nama koleksi fosil manusia purba di Museum BIKON BLEWUT:
Ø  Tulang manusia proto negrito Flores                       298 koleksi
Ø  Tengkorak manusia proto negrito Flores                               5 koleksi
8.        Jenis koleksi fauna daratan Flores apa saja yang yang tersimpan di Museum BIKON BLEWUT?
Ø  Fosil geraham gajah stegodon Flores
Ø  Fosil gading gajah stegodon Flores
Ø  Bagian-bagian tulang Stegodon
Ø  Kupu-kupu hutan
Ø  Kumbang polos
Ø  Tanduk kambing hutan
Ø  Fosil ular phyton
Ø  Taring ikan duyun
Ø  Fosil biawak besar
9.       Apa hubungannya Museum BIKON BLEWUT dengan Dr. Theodor Verhoeven SVD
Nama Theodor tak dapat dipisahkan dari museum BIKON BLEWUT. Hampir sebagian besar dari koleksi yang tersimpan di Museum ini adalah hasil penemuan dari Pater Theodor. Pada tahun 1949 ia mulai melakukan penelitian-penelitia  lapangan di Flores. Setelah melakukan penelitian dan berbagai informasi tentang adanya situs-situs purba maka pada tahun 1950 Pater Theodor bersama rombongannya mengadakan penggalian di berbagai gua. Selama lima belas tahun ia bergelut dalam ekspedisi penggalian dan pencarian fosil-fosil purba.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar