TUNGGU!
Waktu
menunjuk pukul tujuh. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa
mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.
Dua belas
jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe
itu senyumnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan
pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan.
Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan
berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.
Namun, sebenarnya,
hati saya selalu gaduh. Ketika di atas tubuhnya saya mengaduh. Karena
setelahnya saya akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?
”Kenapa
perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang
memabukkan.”
”Hah?!”
Saya bukan
orang yang mengerti bahasa isyarat. Apalagi kalau itu mengandung makna
filosofis berat. Saya cuma tahu karena saya merasa. Bukan karena teori-teori
yang tercantum dalam buku-buku yang pemikir sepertinya biasa baca. Saya hanya
mau mencinta. Apakah lewat buku-buku bermartabat itu baru cinta bisa dicerna?
Ia selalu
menyebutkan nama-nama terkenal yang saya tidak kenal. Ia selalu menyebutkan
nama-nama yang bahkan di dalam kepala saya pun tak akan lama mengental.
Badiout? Platoy? Badut yang letoi, begitu yang selalu ada di dalam kepala saya
tercantol. Bukan karena pemikiran mereka tentang kebenaran yang tidak saya
pahami. Tapi lebih karena setiap kali melihat badut yang letoi, saya merasa tak
sampai hati.
Saya tidak
pernah habis pikir mengapa ada karakter semacam badut di sirkus. Rata-rata
mereka sebenarnya berbadan kurus. Bermuka tirus. Hanya kosmetik di mukanya
memberangus. Dan buntalan di perutnya yang besar membungkus. Sehingga ia
kelihatan lucu dan mungkin bagus. Bagi mata orang-orang tua yang membawa
anak-anaknya hanya untuk sejenak melupakan haus. Haus hiburan. Haus
kebersamaan. Haus tertawa bersama dalam suasana kekeluargaan. Padahal mata
anak-anak itu mungkin bisa melihat apa yang ada di balik mata badut-badut. Mata
yang bersungut. Dan mulut yang merengut di balik riasan begitu lebar dan
memerah di mulut.
Salah satu
mata anak-anak itu, adalah mata saya. Mungkin di antara banyaknya anak-anak
itu, hanya saya satu-satunya. Melihat badut yang itu-itu saja di setiap
pertunjukan sirkus apa pun dan di mana pun juga. Badut yang letoi. Letoi yang
adalah seperti tak bersendi dalam bahasa asli Jakarta. Dan selalu ada garis
merah di bawah mata mereka seperti air mata. Jadi saya tidak pernah mengerti
mengapa mereka menertawakannya. Bahkan sampai sekarang, ketika usia saya
menginjak dewasa.
Menertawakan
kesedihan. Menertawakan kebersamaan. Menertawakan keadaan merekakah yang
terpaksa datang bersama sanak keluarga hanya atas nama kekeluargaan?
Menertawakan diri mereka sendiri. Dan untuk itu ada harga yang harus mereka
beli?
”Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahaha.”
Akhirnya
saya tertawa lepas sebelum ia menjawab reaksi saya. Sangat lepas melebihi tawa
saya melihat badut-badut letoi di sirkus. Berikut binatang-binatang yang tidak
seharusnya diberangus. Sangat sangat lepas melebihi tawa-tawa dengannya yang
sudah hangus.
”Kenapa kamu
ketawa, Sayang? Saya kan udah bilang, kalau kamu mau jadikan anak kita,
sekarang saatnya. Saya tidak akan bisa kasih anak ke kamu lagi mengingat umur
saya sudah lima puluh tahun sekarang. Tapi, saya tidak bisa jamin apakah saya
bisa tanggung jawab secara material.”
Kupu-kupu
melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun
melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk.
Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang
gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk. Karena itu segera
saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.
”Kamu…”
”Hah?!”
Saya
memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika
berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh.
Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai
dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.
Sorak-sorai
itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang disebutkan ia dari
nama-nama pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di
kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya. Ia tidak
pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api
itu melumatnya. Bahkan ketika ia berkata,
”Kenapa
perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang
memabukkan.”
Tapi di
manakah sekarang ia?
”Hah?!”
Terkejut
saya ketika bahu ditepuk seseorang.
”Boleh saya
ambil bangku yang tak terpakai?”
”Hah?!”
Saya tidak
bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat
pengguguran. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan
bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku
tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?
”Boleh saya
pakai bangkunya, Mbak?”
Saya
menatapnya.
”Maaf, ada
yang saya tunggu.”
”Waktu?”
Waktu
menunjuk pukul tujuh.
Jakarta, 19
Agustus 2011 10:14 AM
Kunang-kunang
dalam Bir
Di kafe itu,
ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan
terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir
dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi,
benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada
gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu
segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia
menciumnya pertama kali dulu.
Dulu, ketika
dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga
muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia
tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….”
Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I
just called to say I love you….
Tapi mengapa
bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih
berpintu? Mestinya saat itu ia tak membiarkan dia pergi. Tak membiarkan dia
bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya tak pernah
membuatnya kembali.
Waktu bisa
mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah
yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak
berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama
dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali. Untuk gelas bir ketiga
yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali
gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu
tidak juga tiba.
”Besok kita
ketemu, di kafe kita dulu….”
Ia tak
percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.
”Kok diam….”
”Hmmm.”
”Bisa kita
ketemu?”
”Ya.”
”Tunggu
aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”
Tiba-tiba
saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja
suaminya mendadak kena ayan atau terserang amnesia, hingga perempuan yang masih
dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.
Menemui?
Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi
untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari
ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu,
ketika ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum
mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas dada. Ketika ia yakin, ia
tak mungkin bahagia tanpa dirinya.
Ah, ia jadi
teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman
yang terasa gemetar dan malu-malu.
”Aku selalu
membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma sepasang kunang-kunang.”
Dia
tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”
”Kalau
begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang
setiap malam mendatangi kamarmu….”
”Hahaha,”
dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi
kunang-kunang?”
”Aku akan
hinggap di dadamu.”
Dada yang
membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena sudah dua anak
menyusuinya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang
akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.
”Kunang-kunang…mau
ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….”
Ia
bersenandung sambil membuka satu per satu kancing seragam. Dia yang hanya
memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari
kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di
pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang
beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam.
Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.
Ia selalu
membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang
membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu
terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia
selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan
menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.
Ia hendak
melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika
dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian
kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar
bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda
tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini.
Menjadi nanti.
Adakah kunang-kunang
itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi
terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang
ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang
muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung
menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.
Gelas birnya
sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang
beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati.
Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada
percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri.
Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.
”Aku
menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman
yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan
kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”
”Kenapa?”
”Karena di
dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan
kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”
”Tapi aku
tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.
”Bohong….”
”Aku tak
pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”
Ia memandang
nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya
adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah
pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan.
Oleh banyak orang. Olehnya….
”Tidak. Aku
tidak bohong.”
”Semakin kau
bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”
Ia tak
menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia
merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya.
Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup
setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada
akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau
akan menikahiku?”
Ia menyukai
ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan.
Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia
menggeleng.
Keduanya
akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang,
aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi
kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi
kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa
meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.
Seperti ia
tak pernah meminta perpisahan yang getir.
”Aku
mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”
Hidup pada
akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti
kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia
emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar
ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?
Pada saat ia
tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar
menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan
perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara
dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca
jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun,
memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras
menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap
di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya.
”Aku memilih
menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang
ketimbang aku menikah denganmu.”
Itulah yang
diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.
”Jangan
hubungi aku!”
Lalu dia
menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus
dari mulutnya.
Barangkali,
segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti
kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi.
Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang
penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.
Dan kini,
seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum bir.
Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu
membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga,
desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup,
barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih
terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir,
jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?
Ini gelas
bir keenam!
Dan ia masih
menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan
suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia
seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam
berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam,
sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.
Pada gelas
kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga
delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis.
Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas
bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah
terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian
ia beranjak pergi.
***
Malam makin
mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan
kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan.
Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.
Pada saat
itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang
melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong.
Jakarta,
Coffeewar,
8/26/10 12:38:25 AM
8/26/10 12:38:25 AM
Gerhana Mata
Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.
Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin…
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Mungkin…
Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.
Jakarta, 2 Oktober 2006 11:06 AM
Air
Air putih
kental itu saya terima di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang rongga
vagina hingga lengket, liat sudah di indung telur yang tengah terjaga.
Menerima. Membuahinya. Ada perubahan di tubuh saya selanjutnya. Rasa mual
merajalela. Pun mulai membukit perut saya. Ketika saya ke dokter kandungan
untuk memeriksakannya, sudah satu bulan setengah usia janinnya.
Akan kita
apakan calon bayi ini? Kita masih terlalu muda,” kata ayahnya.
Saya akan
menjaganya.
Air kental
itu seperti bom yang meledak di dalam tubuh saya. Mengalir deras sepanjang
rongga vagina hingga keluar mendesak celana dalam yang tak kuat membendungnya.
Terus menyeruak dan mendarat lengket, liat, di atas seprai motif beruang teddy
berwarna merah muda. Ketuban sudah pecah. Rasa takut seketika membuncah. Tapi
segera mentah berganti dengan haru memanah. Sembilan bulan sudah. Lewati mual
tiap kali mencium bau parfum keluaran baru eternity. Rasa waswas setiap kali
belum waktunya namun sudah kontraksi. Tidak mengambil cuti, mencari uang demi
mengonsumsi makanan bergizi yang konon bisa membuahkan kecanggihan otak maupun
fisiknya nanti. Tapi…
“Kami
mengerti, tapi perutmu sudah kelihatan tambah besar. Kami tidak bisa
mempekerjakan SPG yang kelihatan sedang hamil,” kata supervisor saya.
Saya akan
menjaganya.
Air ketuban
sudah hampir kering. Baru pembukaan delapan, masih harus menunggu dua pembukaan
lagi. Harus operasi. Tapi saya ngotot persalinan alami. Uang yang terkumpul
tidak cukup untuk operasi. Dan jika operasi, saya khawatir tidak bisa langsung
mengurusnya sendiri. Untuk keperluan sehari-hari saja pas-pasan. Membayar
pembantu, apalagi suster, jelas belum mapan. Materi yang ada, belum cukup untuk
hidup sebagai majikan. Memikirkan itu tenggorokan saya jadi ikut kering. Erang
kesakitan sudah tidak lagi melengking. Kepala saya pening. Dokter yang baik itu
menatap saya dengan prihatin. Tapi saya berkata dengan yakin.
“Robek saja,
Dok. Gunting saja supaya tuntas pembukaannya.”
Saya akan
menjaganya
Air hangat
itu membasuh kulit tubuhnya yang bening. Suara tangisnya seisi ruangan
melengking. Saya jentikkan jari kelingking di pipinya yang merah. Mengecup
kedua matanya yang masih lengket. Masih tak percaya. Makhluk manis tak berdaya
itu pernah tinggal di dalam rahim saya. Masih tak percaya. Makhluk mungil itu
keluar dari dalam tubuh saya. Lantas suster membawanya. Pergi ke kamar bayi
jauh dari ibunya. Saya ingin protes, tapi tak bisa. Saya hanya bisa berjanji
dalam hati, setelah ini tak akan ada yang memisahkan kami lagi, ketika suster
itu berkata, “Ibu butuh istirahat untuk mempersiapkan ASI. Sekarang kami akan
membawanya ke kamar bayi.”
Saya akan
menjaganya.
Air putih
cair itu keluar berupa jentik-jentik yang ajaib di ke dua puting saya. Suster
yang sedari tadi memijat payudara saya terlihat puas. Tidak terlalu sulit
mengeluarkannya. Selama sembilan bulan setiap harinya saya sudah memijat
payudara saya dengan minyak kelapa. Lucu, sekarang ke dua payudara kecil ini
pun gemuk membungkah seperti kelapa. Penuh dengan air susu yang sebentar lagi
akan ada pengisapnya. Di mana makhluk mungil itu? Saya begitu tak sabar
menunggu. Begitu ingin segera menimang dan menatapnya menyusu. Saya sudah tidak
butuh rehat. Air susu saya sudah sarat. Payudara sudah terasa berat.
“Benar Ibu
sudah siap?”
Saya akan
menjaganya
Air mata
meleleh di pipinya, tak ingin begitu saja melepas kepergian saya. Cukup lama
saya harus menenangkannya. Berusaha memberikan pengertian. Berusaha memberikan
rasa aman. Dan harapan. Harapan akan segera pulang. Harapan akan segera pulang
membawa uang. Harapan akan segera pulang membawa uang untuk suatu hari nanti
tak perlu pergi kerja dan tinggal angkat kaki ongkang-ongkang. Jika saat itu tiba,
kami akan menjelajah dunia. Mengunjungi semua Disneyland di tiap negara yang
memilikinya. Bermain dengan penguin-penguin di Cape Town selatan Afrika.
Menyeruput pinacolada di Hawaii sambil menyaksikan tarian bora-bora. Kalau
perlu, kalau ia mau, saya akan membeli rumah berikut taman bermain milik raja
pop Michael Jackson yang tengah bangkrut. Membeli apa pun yang ia inginkan
semudah orang membuang kentut. Tapi tidak mudah memberikan sejuta harapan.
Apalagi jika harapan-harapan itu kerap diulang-ulang dan tak pernah mewujud
jadi kenyataan. Karena sudah beribu-ribu kali saya hanya pulang membawa sedikit
uang. Hanya cukup untuk makan sekadar, membayar listrik, air, telepon,
kontrakan, dan sekolah yang semakin hari harganya semakin tinggi menjulang. Dan
saya tetap akan pergi. Tetap akan pulang. Ia akan tetap tak membiarkan saya
pergi. Tetap menunggu saya pulang. Saya tetap akan pergi. Tetap akan pulang. Ia
membiarkan saya pergi. Tak menunggu saya pulang.
“Capek ah
nunggu, aku udah mau tidur!” semprotnya.
Saya akan
menjaganya.
Air asin itu
mendarat di bibir saya lagi. Lampu-lampu besar seperti makhluk pemeras keringat
yang tak berperikemanusiaan. Sudah jam delapan. Baru akan dimulai merekam
adegan. Saya harus segera menghayati peran. Tapi kepala saya masih dipenuhi
pikiran. Apakah makhluk kecil yang sudah beranjak remaja itu sudah makan?
Apakah ia kesepian? Atau jangan-jangan di rumah ia sedang asyik masyuk pacaran?
Saya menjadi ketakutan. Ingin menelepon tapi sutradara memberi instruksi jika
ponsel mutlak dimatikan. Tak ada yang mungkin saya lakukan untuk menjangkaunya
sekarang. Padahal saya sudah begitu ingin cepat-cepat menjangkaunya dan terbang
pulang. Melayang seperti burung tanpa harus terhambat kemacetan. Melayang
bersamanya menikmati indahnya kelap kelip lampu jalan seperti dongeng anak-anak
Peter Pan. Lampaui semua beban. Lampaui semua luka dan penderitaan. Kadang saya
juga ingin melayang jauh ke masa lampau. Tidak membiarkan air putih kental itu
lengket di indung telur hingga tumbuh menjadi janin yang kini terlahir sebagai
manusia yang merasa disia-siakan. Melayang lebih jauh lagi ke masa lampau. Tak
bertemu dengan ayahnya yang dengan mudahnya lepas tangan.
“Action!”
teriak sutradara.
Saya akan
menjaganya.
Air jernih
di dalam gelas yang dulu ada di atas meja samping tempat tidurnya, kini telah
berganti dengan air berbusa kekuning-kuningan. Di gelas itu berdiri sebotol bir
merek bintang. Entah disengaja untuk menarik perhatian. Entah ia sudah teler
dan lupa menyimpan. Yang sudah pasti telah terjadi perubahan yang membuat saya
tertekan. Tapi lebih pasti lagi ia tak kurang tertekan. Apakah yang sudah saya
lakukan? Atau justru apakah yang tidak saya lakukan? Sudahkah karenanya ia
menjadi korban? Di balik selimutnya ia tertidur dengan amat tenang. Saya
jentikkan kelingking di pipinya yang bening. Saya kecup kedua matanya yang
merapat, persis seperti ketika ia baru lahir dengan kedua mata yang masih
lengket. Tapi ia menggeliat. Lantas meronta, menghalau saya supaya tak
dekat-dekat. Semakin terkumpul segala lelah segala penat.
“Bangsaaaaaaaat!”
Saya tak
kuasa menjaganya
Air kuning
kental itu meluap dari mulut saya. Lima puluh pil penenang saya tenggak.
Harusnya seratus pil seperti yang dikonsumsi Maryln Monroe hingga ajal
menjemputnya. Ada cahaya di ujung lorong, igau saya. Ternyata datang dari
tubuhnya yang berbalut cahaya kemilau dengan tangan terbuka. Siap menerima saya
dalam pelukan bahagia. Saya menengok ke arah ujung lorong yang berlawanan. Ada
kegelapan, igau saya. Ternyata datang dari tubuhnya yang sama sekali tak
berbalut cahaya kecuali melulu kegelapan dan luka. Terkulai lemah seakan
menunggu saya menerima ia dalam pelukan saya. Menunggu. Seperti semasa ia bayi
menunggu saya membersihkan puting payudara sebelum menyerahkan untuknya
menyusu. Menunggu. Seperti semasa ia balita menunggu saya pulang selepas kerja
membawa sedikit uang dan satu kantung plastik berisi sepatu baru.
Menunggu.
Seperti saya sekarang menunggunya dengan ilusi dirinya berkilauan merentangkan
tangan atau terkulai lemah membutuhkan pegangan setelah menemukan mulut saya
berbusa akibat menenggak obat penenang. Menunggu. Seperti sekarang saya
menunggu emosi saya pergi. Menunggu kesadaran saya kembali. Menunggu. Seperti
saya sekarang menunggu satu saat nanti ia mengerti. Satu saat nanti ia kembali.
Saya kembali
ke kamarnya. Duduk di samping tempat tidurnya dan memerhatikannya yang sudah
kembali pulas tidur. Ada buku di sampingnya menarik perhatian saya. Pelan-pelan
saya ambil dan buka. Ada puisi di dalamnya.
Air dapat
memelukmu
tapi tak
akan membelenggumu
Air dapat
pantulkan cahayamu
tapi tak
dapat jadikanmu nyata(*)
Saya akan
menjaganya.
Jakarta, 13
Mei 2006 12:24:00 PM
Untuk Banyu
Bening
(*) Cuplikan
puisi Air karya Banyu Bening
Ikan
Ia ikan yang
terbang. Ia burung yang berenang. Dan saya, adalah saksi yang melihat semua itu
dengan mata telanjang.
Ia menatap
saya dengan pancaran mata riang. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh
menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Sembunyi-sembunyi, kami
menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Sementara kilat
mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami
berjumlah jutaan. Ada yang hanya bagian kepala, ada yang hanya bagian kaki, dan
ada yang hanya bagian tangan. Tak jarang kepingan-kepingan yang terlihat bagai
pecahan kaca yang beterbangan itu saling berhantaman. Lantas jatuh menghajar
kepala kami kala tak sedang ingin penuh. Menusuk ke dalam kekosongan otak yang
terasa ringan. Hingga ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibir kami yang
tengah berciuman. Seolah dengan sengaja ingin memisahkan.
Malam
berenang dalam kesunyian. Deru ombak ditingkahi samar suara musik dari kafe di
kejauhan pantai, saling beradu berebut perhatian. Kami terkapar di atas pasir
basah. Dingin meresap pori-pori kulit kami yang telah menjadi keriput dan merinding.
Entah karena dingin yang memanggang, entah karena nyala yang redup, entah
karena basah yang kering, entah karena entah, karena entah adalah ketidaktahuan
yang sering kali jauh lebih memabukkan daripada kesadaran. Bukankah kita semua
membayar mahal untuk sebuah entah? Kafe di pinggir pantai itu pun terisi
orang-orang yang rela mengeluarkan ratusan hingga jutaan rupiah untuk tidak
sadar. Untuk saling bertukar lidah berludah dengan orang yang baru dikenal.
Untuk muntah di atas jamban lantas terpingkal-pingkal. Untuk saling bersentuhan
dan mendesah massal. Untuk larut dalam satu malam yang menawarkan sejuta
gombal.
Phuih! Ombak
meludahi wajah kami yang ingin tak peduli. Tapi lendir ombak itu melekat begitu
kental, begitu tengik! Mendakwa kelakuan kami sebagai jijik. Dan ia terpana.
Girangnya sirna. Ia bukan lagi ikan yang terbang dan burung yang berenang. Dan
ia menatap seolah saya adalah daging dan tulang yang terbalut kulit kerang.
Muka badak, begitu istilah orang-orang. Maka saya tahu, hampir tiba saatnya
waktu bersenang-senang hilang. Kebenaran dan kesalahan dipertanyakan. Saat
penghakiman.
Suara musik
di kejauhan membisikkan mimpi yang mutlak terulang. Sendawa alkohol di
permukaan udara. Bahana tawa. Bercinta di bawah para-para. Pesta pora. Sentuhan
menggoda. Senyum manja. Membuat saya begitu jengah dengan segala aturan-aturan.
Membuat saya muak mendengar melulu kebajikan. Maka…
Phuih! Saya
meludah ke mukanya. Lantas saya berlari sambil menarik dahak sebanyak-banyaknya
di tenggorokan untuk segera melimpahkannya kepada ombak yang kurang ajar. Saya
pun tak mau membuang waktu lebih panjang. Saya berlari kencang menuju kafe
dengan kaki-kaki telanjang. Meninggalkannya dalam diam yang haru. Rajaman semu.
Saya
menunggu.
“Buset! Lama
amat di luar?”
“Udah
ngapain aja?”
“Kayak gak
tau aja barbeque under the stars!”
“Feeling hot
hot hot!”
Tawa. Tawa.
Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa berkepanjangan.
Tawa. Tawa.
Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa. Tawa dalam penantian.
Musik kian mengentak.
Undak-undakan telah disiapkan di pinggir bar. Para model menunggu giliran untuk
sebuah peragaan. Entah peragaan busana. Entah peragaan gaya. Entah peragaan
yang bisa memancing rasa terpana. Entah peragaan untuk sekadar pertunjukan.
Pertunjukan berarti menunjukkan sesuatu. Tapi sesuatu yang ingin dipertunjukkan
itu tetaplah entah. Di sebuah tempat antah berantah.
Mereka yang
berada di sana tertawa untuk entah. Sementara saya pun pura-pura tertawa,
mengelabui pikiran sendiri yang sedang secara diam-diam mencari makna. Berlaku
nyaris sama dengan yang lainnya supaya tak terlihat sebagai pembodoh di dalam
magma yang siap memuntahkan laharnya kepada siapa pun yang berusaha meredam
dengan dingin tanya. Apa pula pentingnya bertanya jika ada liukan pinggul di
depan mata, rok-rok dengan panjang ala kadarnya, dan kaki-kaki jenjang
mengentak di atas meja? Bukankah yang selayaknya terdengar adalah tanya
semisal, berapa kira-kira umur mereka, bisa atau tidak mereka diajak kencan
setelah acara, pertanyaan-pertanyaan yang tidak saja tertuju kepada para model
itu, tapi juga kepada setiap pengunjung yang rela dan masyuk berimpit di dalam
ruangan dipenuhi asap rokok meraja tiap penjuru?
Dan
pertanyaan itu pun berdesing di telinga saya. “Sendiri?” Saya menatapnya. Tapi
pandangan saya bagai menembus segala bentuk yang ada. Saya melihat seringai
serigala di bibirnya yang tipis itu. Saya melihat anak-anak yang tengah
tertidur di atas tempat tidur berkelambu. Saya melihat jajaran kartu kredit di
dompetnya yang berwarna abu-abu. Saya melihat seekor burung yang seperti baru
terjaga dari mati suri nyaris sewindu. Saya melihat diri saya sendiri terpaku.
Tak mampu menjawab pertanyaan itu. Ia pun langsung mengambil langkah seribu.
Namun seperti pekik senapan lagi-lagi pertanyaan itu kembali memburu.
“Sendiri?” Dan sesudahnya, saya melihat sepasang manusia bercengkerama, lalu
memisahkan diri.
Alkohol,
sebagaimana fungsi malam ialah sarana untuk bersembunyi dari terang. Mata pun
meredup menciptakan pemandangan yang makin samar. Ada surga yang akan segera
terjangkau. Ada nama yang akan segera dilupakan. Ada luka yang akan segera
hilang. Luka yang menyadarkan bahwa masa lalu kita nyata. Masa lalu yang pernah
menguatkan perasaan bahwa dosa tak akan pernah cukup berarti ketika hati nurani
mengatakan apa yang benar.
“Huahahahaha…mata
bintitan, mulut bau alkohol gitu masih berani ngomongin surga, dosa, yang
pantas juga ngomongin syahwat!”
Selalu harus
ada yang pantas. Di tempat yang begitu tanpa batas ini pun mengenal kata
pantas. Mata saya pun memanas. Ada yang mendesak ingin keluar. Maka bening
berkumpul menyelimuti hitam bola mata. Namun ada keinginan kuat untuk segera
menahan sedu sedan. Pertahanan yang dibangun untuk satu kata pantas, pantas,
dan pantas. Padahal saya begitu ingin mendengar pantas sebagai pantat. Saya
ingin melihat bubur sebagai dubur. Saya ingin merasa kosong sebagai bokong.
Saya ingin merasa pantas yang lain dan lain yang pantas. Maka….
dengan mata
telanjang saya melihat ia ikan yang terbang. Ia burung yang berenang. Lalu
semakin banyak ikan yang terbang. Semakin banyak burung yang berenang. Lalu
semakin bertambah banyak ikan yang terbang. Semakin bertambah banyak burung
yang berenang. Dan semua adalah ikan yang terbang. Semua burung yang berenang.
Namun saya mencari mata yang menatap girang. Tapi tak juga saya temukan ia di
tengah hiruk-pikuk gelepar sayap ikan dan sirip burung-burung berkepakan. Ia
masih berada dalam diam yang haru. Rajaman semu.
Saya
menunggu.
Jakarta,
Agustus 2004
Saya di Mata
Sebagian Orang
Sebagian
orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian
lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.
Sebagian lagi menganggap saya murahan!
Padahal saya
tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa
sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!
Dan apa yang
saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik.
Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah.
Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!
Sementara
saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau
saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa.
Kalau saya tidak murahan!
Tapi
penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin
kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa.
Yakin kalau saya murahan!
Maka inilah
saya, yang tidak munafik. Yang tidak membual. Yang tidak sok gagah. Yang tidak
sakit jiwa. Yang tidak murahan!
Walau
sebagian orang tetap menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual.
Menganggap saya sok gagah. Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan!
Saya katakan
ke banyak orang kalau saya tidak punya pacar. Saya tidak punya kemampuan untuk
mencintai seseorang. Tapi bukan berarti saya tidak punya teman. Saya punya
banyak sekali teman. Ada teman yang setiap pagi menyiapkan air hangat untuk
mandi. Ada teman makan siang ketika rehat kantor. Ada teman yang menjemput
sepulang kantor. Ada teman yang menemani nonton. Ada teman yang menemani
clubbing. Mereka semua teman-teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang
bisa diandalkan dalam segala hal dan saya yakin saya pun cukup bisa diandalkan sebagai
teman. Bukankah sudah sepatutnya begitu dalam hubungan pertemanan? Buktinya
tidak jarang sebenarnya saya malas makan siang. Tapi karena teman mengajak,
saya merasa tidak enak untuk menolak. Begitu juga halnya dengan nonton atau
clubbing. Pulang kantor saya sering kelelahan. Inginnya lekas pulang dan tidur.
Tapi jika ada teman yang mengajak nonton, rasanya saya tidak tega menolak
apalagi ia sudah khusus jauh- jauh menjemput ke kantor. Maka saya akan
mengiyakan walaupun belum tentu saya suka dengan film yang kami tonton. Pada
saat kami nonton, tidak jarang pula ponsel saya berdering. Andaikan tidak saya
angkat karena tidak sopan menerima telepon di dalam bioskop, tetap saja mereka
bisa meninggalkan pesan SMS. Biasanya minta ditemani ke disko atau sekadar
nongkrong di kafe. Sungguh, tidak selalu saya ingin menerima ajakan mereka.
Tapi bagi saya itulah konsekuensi pertemanan. Apalagi, sekali lagi, mereka
adalah teman-teman yang baik. Yang setia menyiapkan air hangat untuk mandi
setiap pagi. Yang setia menemani makan siang. Yang setia menjemput pulang
kantor. Yang setia menemani ke disko atau kafe. Yang setia memberikan perhatian
dan waktu kapan pun saya butuhkan, walaupun mungkin mereka tidak selalu ingin
mengiyakan, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang
sering saya rasakan.
Kepada
merekalah saya sering menumpahkan segenap perasaan. Kepada merekalah saya
meminta bantuan. Tidak hanya sebatas perhatian dan waktu, tapi juga dari segi
finansial. Kalau saya butuh uang, saya bilang. Kalau saya mau ganti ponsel
model terbaru, saya beri tahu. Kalau saya bosan mobil van dan ingin ganti
sedan, saya pesan. Padahal karena akan selalu ada yang menjemput dan mengantar,
mobil jarang sekali saya gunakan. Kalau saya dapat undangan pesta dan perlu gaun
malam lengkap dengan perhiasan, saya utarakan. Kenapa harus sungkan? Toh saya
tidak memaksa. Toh mereka ikhlas. Dan yang paling penting adalah mereka memang
mampu mengabulkan apa yang saya minta. Saya tidak paksa mereka khusus menabung
untuk saya apalagi sampai suruh mereka merampok bank. Saya juga teman yang
baik. Saya tidak mau mereka susah hati karena tuntutan-tuntutan saya. Kalau
sekali-sekali harus jebol tabungan atau terpaksa mencairkan deposito bolehlah…
yang penting dananya memang ada. Itu pun bukan masalah yang harus saya
besar-besarkan. Bukan sesuatu yang layak untuk membuat saya terharu. Apalagi
jatuh cinta?! Saya harus garis bawahi bahwa saya tidak memaksa. Apalagi saya
sangat tahu, sangat sadar kalau jumlah dana yang dikeluarkan hanya sepersekian
persen dari keseluruhan harta mereka. Coba bayangkan, kurang pengertian apa
saya sebagai teman? Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, tidak jarang
saya harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka. Mungkin lebih tepat jika
saya menggunakan kata merelakan ketimbang mengorbankan. Walaupun saya agak
terganggu, tapi saya rela. Saya melakukannya karena saya mau, bukan karena
paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. Menikmati tiap detail manis yang kami
alami. Makan malam di bawah kucuran sinar rembulan dan keredap lilin di atas
meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan tawa. Sentuhan halus di
rambut saya. Kecupan mesra di ke dua mata, hidung, pipi, dan bibir yang
berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami
yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di
taman hotel, di toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor, atau di
dalam kamar karaoke. Saat-saat yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan.
Saat-saat yang selalu membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari
biasanya. Saat-saat yang selalu membuat aliran darah saya menderas dan naik ke
atas kepala. Saat-saat yang selalu membuat saya pulas tertidur dan mendengkur.
Saat-saat yang tidak pantas untuk tidak membuat saya merasa bersyukur.
Namun dari
sanalah segalanya berpangkal. Semua yang saya lakukan itu dianggap tidak benar.
Sebagian orang menganggap saya munafik karena tidak pernah mengakui kalau saya
punya pacar. Sebagian lagi menganggap saya pembual setiap kali saya bilang
hubungan kami hanya sebatas pertemanan. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah
karena mereka berpikir saya tidak mau mengakui kalau sebenarnya saya mencintai
seseorang. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa karena berteman dengan
begitu banyak orang. Sebagian lagi menganggap saya murahan karena saya bisa
ditiduri tanpa harus ada komitmen percintaan bahkan bisa dalam satu hari dengan
orang yang berlainan. Perbuatan yang saya jalani dengan penuh kewajaran
tiba-tiba berubah menjadi perdebatan. Semua orang merasa lebih tahu dibanding
diri saya sendiri. Beberapa bagian dari mereka itu sibuk dengan pendapatnya
masing-masing dan lebih luar biasa lagi mereka bisa membahas perihal saya ini
berjam- jam, berhari-hari, berminggu- minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun,
sementara teman- teman saya semakin banyak, silih berganti tanpa henti dan ini
membuat mereka punya materi yang lebih dari cukup untuk terus mempergunjingkan
saya seolah tidak ada hal lain yang lebih pantas untuk diangkat sebagai tema.
Mereka bergunjing lewat telepon. Mereka saling bertukar pesan lewat SMS. Mereka
saling mengirim surat elektronik. Mereka saling bertukar pendapat di kafe-kafe.
Di rumah. Di kantor. Di pertokoan. Di restoran. Apalagi jika secara kebetulan
kami bertemu dalam satu kesempatan dengan membawa teman baru. Pembicaraan
mendadak berhenti. Mereka sembunyi-sembunyi bertukar senyum. Mereka sembunyi-
sembunyi bermain mata. Mereka sembunyi-sembunyi mengirim pesan SMS. Mereka
saling berbisik dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diterjemahkan. Kadang
ada satu dua kalimat yang terdengar dan sudah cukup bagi saya untuk
merangkumnya utuh menjadi satu bagian. Kebanyakan berkisar pada seberapa indah
dan seberapa tebal kantong teman yang saya bawa. Pandangan mereka menyapu
bersih kami berdua dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti serigala
kelaparan. Menyeleksi mulai dari apakah ada pernak-pernik baru yang saya pakai,
kantong belanja, hingga jenis kartu kredit saat membayar bon tagihan makan.
Jika teman saya kelihatan indah, maka dikaitkannyalah dengan seberapa dahsyat
kehebatannya di atas ranjang. Jika teman saya kelihatan berkantong tebal, maka
dikaitkannyalah dengan seberapa besar saya menguras uang. Tapi jika ke dua sisi
itu tidak ada yang memenuhi standar pergunjingan, mulailah mereka dengan teori
cinta-cintaan. Dan karena saya tetap bilang kalau kami benar-benar berteman,
perdebatan pun dimulai dan mereka saling membuktikan pendapat siapa yang paling
benar. Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual.
Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit
jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan!
Saya tidak
bisa mungkiri banyak dari teman-teman yang akhirnya mempertanyakan. Banyak dari
teman-teman yang tidak ingin berbagi dan pada akhirnya hubungan kami harus
terakhiri. Tapi tidak satu pun dari mereka yang mendendam karena saya
menjunjung tinggi keterbukaan. Saya tidak pernah membohongi, saya tidak pernah
akal-akalan. Sehingga jika dibilang hubungan kami berakhir, sebetulnya tidak
sepenuhnya benar. Yang berubah hanyalah kami sudah tidak saling melenguh dan
mencabik di atas ranjang. Tapi kami masih saling berbagi cerita walaupun
jarang. Saling bertanya apakah sudah punya pasangan tetap, menikah, atau masih
melajang. Hal- hal seperti ini yang sering tidak saya temukan pada sebagian
orang yang menanggap saya munafik, pembual, sok gagah, sakit jiwa, atau murahan
itu. Sebagian dari mereka malah sering saya dapati tidak lagi bertegur sapa
sama sekali dengan teman lamanya. Biasanya itu disebabkan karena hubungan
mereka yang sembunyi-sembunyi dengan si A ketahuan oleh si B. Setelah putus
dengan si B ternyata ketahuan pulalah si A berteman dengan perempuan lain.
Alangkah sayangnya sebuah hubungan yang menempuh berbagai aral rintangan itu
akhirnya harus kandas di tengah jalan. Tapi saya tetap menghargai sebuah
pilihan. Saya hanya heran. Tapi walaupun saya heran, saya tetap tidak berani
menganggap mereka munafik, pembual, sakit jiwa, sok gagah, atau murahan. Kadang
saya juga mengalami kesulitan dalam satu hubungan. Beberapa kali saya bertemu
dengan tubuh-tubuh indah yang membuat mata silau. Membuat darah saya berdesir
dan mengisyaratkan satu kenikmatan. Malam-malam panjang. Kontraksi dahsyat di
tengah selangkangan. Yang nyatanya berakhir dengan rasa mual. Ereksi yang tidak
lama kekal. Reaksi yang membuat waktu berjalan bagai tak berujung pangkal. Dan
saat itulah alarm dalam tubuh saya mengisyaratkan segala rencana kencan
lanjutan mutlak batal. Sebagian orang menamakan kejadian-kejadian seperti itu
sebagai cinta semalam. Sebagian orang merasa kejadian-kejadian seperti itu
bertentangan dengan moral. Sementara buat saya kejadian-kejadian seperti itu
hanyalah semata-mata proses pengenalan. Seleksi alam yang akhirnya menjawab
apakah kami akhirnya bisa tidak atau lanjut berteman. Tapi tetap orang
menganggap saya munafik. Menganggap saya pembual. Menganggap saya sok gagah.
Menganggap saya sakit jiwa. Menganggap saya murahan!
Mungkin jika
bukan karena penyakit yang datang tanpa bisa saya larang tidak saya idap
sekarang, saya hampir percaya pada pendapat sebagian orang yang tiap bagiannya
menyatu menjadi satu pendapat utuh bahwa tindakan saya menyimpang. Mungkin jika
bukan karena saya tergeletak tak berdaya dan diperlakukan bagai anjing kusta
saya hampir beralih dari apa yang selama ini saya percayai dan nikmati dengan
hati lapang. Karena, ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya
banyak teman yang setia menyiapkan air hangat untuk bilas badan. Mengirim makan
siang. Menemani makan malam. Mendongeng tentang sebuah peristiwa lucu di satu
kafe. Bercerita tentang film yang baru saja diputar, membayar ongkos perawatan,
ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya terima karena saya
munafik. Pembual. Sok gagah. Sakit jiwa. Murahan!
Jakarta, 20
Agustus 2003 11:35:54 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar