Minggu, 06 April 2014

PEO SEBAGAI BAGIAN DARI KARYA SENI YANG KUAT DAN MENDALAM

 (Figo Acm)

Peo Kota
Apakah kita perlu berbicara tentang seni, toh tampa kata pun seni sudah mampu memperlihatkan keindahannya. Dengan telinga kita sudah bisa menilai kadar seni dari suara yang diperdengarkan dan dengan mata kita bisa memahami keindahan suatu karya. Kelihatannya kata kurang bermanfaat ketika dipertautkan dengan seni, apalagi untuk karya seni yang sudah ada sebelum bahasa berkembang dengan baik. Namun pada kesempatan ini saya mencoba untuk memaparkan dimensi kognitif dari seni yang memungkinkan kata memperoleh tempat di dalamnya, khususnya ketika bahasa moderen belum menyentuh seni dalam suatu sistem peradaban tua. Dan pada kesempatan ini pula penulis mencoba mengangkat unsur kognitif dalam karya seni tradisional berupa monumen adat masayarakat Keo yaitu Peo.
Seni pada dasarnya tidak terbatas pada persoalan audio dan visual. Seni yang dangkal adalah seni yang tidak menyentuh ke kedalaman seni itu sendiri. Menurut saya kedalaman seni akan terselami ketika kita mampu memahami makna di balik yang auditif dan visual tersebut. Hemat penulis Peo yang berdiri tegak di tengah perkampungan-perkampungan tua wilayah Nagekeo bukan sekedar ornament tambahan untuk memperhias dan memperindah situasi kampung itu sendiri. Begitu pula dengan ikon burung yang bertengger gagah di atas tiang kayu bercabang dua tersebut bukanlah representasi dari situasi hutan yang penuh dengan pepohonan beserta aneka jenis burung, melainkan sebuah bentuk simbolis yang sarat akan makna. Mungkin bagi tamu-tamu asing yang belum memahami Peo sama sekali, secara refleks akan mengagumi keindahan serta kerumitan ukiran-ukiran yang terpahat pada sisi-sisi Peo tersebut tampa menyadari makna di balik bentuknya yang unik itu. Tetapi bagi orang Keo, Peo sesungguhnya dipahami sebagai simbol persatuan bagi seluruh masyarakat. Jadi Peo bukan sekedar seni yang bisa diindrai mata dan kemudian diresapi hati saja tetapi bisa dipahami maknanya melalui rasio. Sehingga bagi saya Peo adalah bagian dari karya seni yaitu seni rupa yang menampung makna besar di dalamnya, yang mesti dikupas unsur kognitifnya melalui penafsiran dan penalaran.
Sudah disebutkan sebelumnya bahwa Peo adalah bagian dari karya seni yang kuat dan mendalam. Kedalaman Peo sebagai suatu karya seni terletak pada dimensi kognitifnya. Maksud dari dimensi kognitif yang hendak diperlihatkan oleh penulis adalah penalaran dan penafsiran terhadap simbol adat masayrakat Keo tersebut. Bila kita berkesampatan untuk berwisata ke setiap kampung tua di Nagekeo yang memiliki Peo, maka setelah kita menjumpai sepuluh kampung pada akhirnya kita akan memiliki pemahaman bahwa Peo adalah simbol adat seperti monumen yang terbuat dari kayu dengan dua cabang bagian atasnya (kaju saka rua), dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang dipahat serta pada bagian ujung dari kedua cabang tersebut masing-masing terdapat satu ekor burung. Mulanya pemahaman saya tentang Peo masih terbatas seperti yang digambarkan di atas yaitu hanya terhenti pada bentuk dan ukirannya. Tetapi setelah saya berbincang-bincang dengan orang tua-tua di kampung akhirnya pemahaman saya tentang Peo sedikit lebih berkembang. Jika sebelumnya saya memahi Peo sebagai karya seni visual belaka tetapi kini saya menyelam lebih ke dalam yaitu pada penalaran, penafsiran dan pemaknaannya.
Penafsiran dan penalaran menjadi sangat penting dalam memahami Peo sebagai sebuah karya seni yang mendalam dan kuat. Membiarkan diri untuk berhenti memahami Peo sebatas melihat dan meresapi keindahan serta keunikannya akan menghantar kita pada suatu kebingungan, khususnya ketika kita berhadapan dengan maksud dari Peo itu sendiri sebagai simbol persatuan. Peo sendiri berarti mengitari atau mengelilingi, namun jika diperhatikan Peo sebenarnya terletak peris di tengah kampung. Jika kita memperhatikan bentuk Peo secara saksama maka akan terlihat bahwa dua cabang dari Peo tersebut membentuk huruf V. Huruf V adalah simbol dari kelamin wanita, sehingga Peo adalah lambang dari Perempuan atau ibu. Kemudian burung yang bertengger di ujung dari cabang kayu tersebut melambangkan perlindungan dan kesetiaan. Dan secara menyeluruh Peo dijadikan sebagai lambang persatuan. Cukup membigungkan ketika kita berhenti pada unsur visual dari Peo lalu menghubungakannya dengan simbol persatuan. Apa hubungan antara huruf V yang melambangkan wanita, burung yang bertengger sebagai lambang perlindungan dengan Peo secara menyeluruh yang dijadikan sebagai simbol persatuan adat masyarakat Nagekeo. Di sini penafsiran dan penalaran mesti diperluas, tidak hanya berhenti pada pengindrawian tetapi harus bertolak lebih ke dalam yaitu penafsiran akan makna secara menyeluruh.
Arti kata Peo sebagai yang mengitari atau mengelilingi sebenarnya merujuk pada fungsinya sebagai sumber bagi semua orang untuk berkumpul. Jadi yang mengitari bukanlah Peo tetapi manusia yang mengitari atau mengelilingi Peo. Sementara huruf V sebagai lambang perempuan menjelaskan tentang Ibu sebagai pemberi awal kehidupan dan tempat bagi manusia setelah kehidupan. Dari rahim ibu manusia baru dilahirkan, ibu yang menyusui, ibu yang menjaga dan memelihara. Dalam bahasa daerah orang maunori, kematian di terjemahkan dengan kalimat Tama Tuka Ine (Masuk kembali ke dalam perut atau rahim ibu). Sehingga kematian adalah perjalanan pulang ke dalam rahim ibu. Peo adalah lambang awal dan akhir kehidupan, bahwa melalui ibu manusia datang dan kepada Ibu manusia pulang. Dan di dalam Ibu manusia sebenarnya bersatu. Kemudian tentang burung yang bertengger di atas cabang Peo hemat saya melambangkan perlindungan. Dalam kepakan sayapnya semua manusia terlindungi. Orang akan merasa aman jika bersembunyi dalam kepakan sayap yang kuat dan perkasa. Di dalam kepakan sayap itu ada persatuan demi sebuah keamanan. Setelah mendalami makna di balik bagian-bagian Peo yang dapat diindrawi akhirnya kita memahami makna Peo secara keseluruhan sebagai simbol persatuan semua masyarakat adat Nagekeo.
Demikian Peo sebagai monumen adat membicarakan tentang persatuan seluruh masyarakat. Peo adalah simbol untuk Ibu yang melahirkan dan tempat manusia berpulang, manusia yang berasal dan bermula, manusia yang tidak tercerai berai dan merana, manusia yang selalu kembali pulang setelah mengembara sekian jauh. Peo adalah ibu yang selalu menyediakan tempat yang nyaman dan damai bagi kehidupan. Ibu yang selalu memanggil anak-anaknya untuk bersatu dalam kepakannya yang gagah perkasa.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar