PEO SEBAGAI
BAGIAN DARI KARYA SENI YANG KUAT DAN MENDALAM
(Figo Acm)
![]() |
| Peo Kota |
Apakah kita perlu berbicara tentang seni, toh tampa
kata pun seni sudah mampu memperlihatkan keindahannya. Dengan telinga kita
sudah bisa menilai kadar seni dari suara yang diperdengarkan dan dengan mata
kita bisa memahami keindahan suatu karya. Kelihatannya kata kurang bermanfaat
ketika dipertautkan dengan seni, apalagi untuk karya seni yang sudah ada
sebelum bahasa berkembang dengan baik. Namun pada kesempatan ini saya mencoba
untuk memaparkan dimensi kognitif dari seni yang memungkinkan kata memperoleh tempat
di dalamnya, khususnya ketika bahasa moderen belum menyentuh seni dalam suatu
sistem peradaban tua. Dan pada kesempatan ini pula penulis mencoba mengangkat unsur
kognitif dalam karya seni tradisional berupa monumen adat masayarakat Keo yaitu
Peo.
Seni pada dasarnya tidak terbatas pada persoalan audio
dan visual. Seni yang dangkal adalah seni yang tidak menyentuh ke kedalaman
seni itu sendiri. Menurut saya kedalaman seni akan terselami ketika kita mampu
memahami makna di balik yang auditif dan visual tersebut. Hemat penulis Peo
yang berdiri tegak di tengah perkampungan-perkampungan tua wilayah Nagekeo
bukan sekedar ornament tambahan untuk memperhias dan memperindah situasi
kampung itu sendiri. Begitu pula dengan ikon burung yang bertengger gagah di atas
tiang kayu bercabang dua tersebut bukanlah representasi dari situasi hutan yang
penuh dengan pepohonan beserta aneka jenis burung, melainkan sebuah bentuk
simbolis yang sarat akan makna. Mungkin bagi tamu-tamu asing yang belum
memahami Peo sama sekali, secara refleks akan mengagumi keindahan serta
kerumitan ukiran-ukiran yang terpahat pada sisi-sisi Peo tersebut tampa
menyadari makna di balik bentuknya yang unik itu. Tetapi bagi orang Keo, Peo
sesungguhnya dipahami sebagai simbol persatuan bagi seluruh masyarakat. Jadi
Peo bukan sekedar seni yang bisa diindrai mata dan kemudian diresapi hati saja tetapi
bisa dipahami maknanya melalui rasio. Sehingga bagi saya Peo adalah bagian dari
karya seni yaitu seni rupa yang menampung makna besar di dalamnya, yang mesti
dikupas unsur kognitifnya melalui penafsiran dan penalaran.
Sudah disebutkan sebelumnya bahwa Peo adalah bagian
dari karya seni yang kuat dan mendalam. Kedalaman Peo sebagai suatu karya seni
terletak pada dimensi kognitifnya. Maksud dari dimensi kognitif yang hendak
diperlihatkan oleh penulis adalah penalaran dan penafsiran terhadap simbol adat
masayrakat Keo tersebut. Bila kita berkesampatan untuk berwisata ke setiap
kampung tua di Nagekeo yang memiliki Peo, maka setelah kita menjumpai sepuluh
kampung pada akhirnya kita akan memiliki pemahaman bahwa Peo adalah simbol adat
seperti monumen yang terbuat dari kayu dengan dua cabang bagian atasnya (kaju
saka rua), dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang dipahat serta pada bagian ujung
dari kedua cabang tersebut masing-masing terdapat satu ekor burung. Mulanya
pemahaman saya tentang Peo masih terbatas seperti yang digambarkan di atas
yaitu hanya terhenti pada bentuk dan ukirannya. Tetapi setelah saya
berbincang-bincang dengan orang tua-tua di kampung akhirnya pemahaman saya
tentang Peo sedikit lebih berkembang. Jika sebelumnya saya memahi Peo sebagai karya
seni visual belaka tetapi kini saya menyelam lebih ke dalam yaitu pada
penalaran, penafsiran dan pemaknaannya.
Penafsiran dan penalaran menjadi sangat penting dalam
memahami Peo sebagai sebuah karya seni yang mendalam dan kuat. Membiarkan diri
untuk berhenti memahami Peo sebatas melihat dan meresapi keindahan serta
keunikannya akan menghantar kita pada suatu kebingungan, khususnya ketika kita
berhadapan dengan maksud dari Peo itu sendiri sebagai simbol persatuan. Peo
sendiri berarti mengitari atau mengelilingi, namun jika diperhatikan Peo
sebenarnya terletak peris di tengah kampung. Jika kita memperhatikan bentuk Peo
secara saksama maka akan terlihat bahwa dua cabang dari Peo tersebut membentuk
huruf V. Huruf V adalah simbol dari kelamin wanita, sehingga Peo adalah lambang
dari Perempuan atau ibu. Kemudian burung yang bertengger di ujung dari cabang
kayu tersebut melambangkan perlindungan dan kesetiaan. Dan secara menyeluruh
Peo dijadikan sebagai lambang persatuan. Cukup membigungkan ketika kita
berhenti pada unsur visual dari Peo lalu menghubungakannya dengan simbol
persatuan. Apa hubungan antara huruf V yang melambangkan wanita, burung yang
bertengger sebagai lambang perlindungan dengan Peo secara menyeluruh yang
dijadikan sebagai simbol persatuan adat masyarakat Nagekeo. Di sini penafsiran
dan penalaran mesti diperluas, tidak hanya berhenti pada pengindrawian tetapi
harus bertolak lebih ke dalam yaitu penafsiran akan makna secara menyeluruh.
Arti kata Peo sebagai yang mengitari atau mengelilingi
sebenarnya merujuk pada fungsinya sebagai sumber bagi semua orang untuk
berkumpul. Jadi yang mengitari bukanlah Peo tetapi manusia yang mengitari atau
mengelilingi Peo. Sementara huruf V sebagai lambang perempuan menjelaskan
tentang Ibu sebagai pemberi awal kehidupan dan tempat bagi manusia setelah
kehidupan. Dari rahim ibu manusia baru dilahirkan, ibu yang menyusui, ibu yang
menjaga dan memelihara. Dalam bahasa daerah orang maunori, kematian di
terjemahkan dengan kalimat Tama Tuka Ine (Masuk
kembali ke dalam perut atau rahim ibu). Sehingga kematian adalah perjalanan
pulang ke dalam rahim ibu. Peo adalah lambang awal dan akhir kehidupan, bahwa
melalui ibu manusia datang dan kepada Ibu manusia pulang. Dan di dalam Ibu
manusia sebenarnya bersatu. Kemudian tentang burung yang bertengger di atas
cabang Peo hemat saya melambangkan perlindungan. Dalam kepakan sayapnya semua
manusia terlindungi. Orang akan merasa aman jika bersembunyi dalam kepakan
sayap yang kuat dan perkasa. Di dalam kepakan sayap itu ada persatuan demi
sebuah keamanan. Setelah mendalami makna di balik bagian-bagian Peo yang dapat
diindrawi akhirnya kita memahami makna Peo secara keseluruhan sebagai simbol
persatuan semua masyarakat adat Nagekeo.
Demikian Peo sebagai monumen adat membicarakan tentang
persatuan seluruh masyarakat. Peo adalah simbol untuk Ibu yang melahirkan dan
tempat manusia berpulang, manusia yang berasal dan bermula, manusia yang tidak
tercerai berai dan merana, manusia yang selalu kembali pulang setelah
mengembara sekian jauh. Peo adalah ibu yang selalu menyediakan tempat yang
nyaman dan damai bagi kehidupan. Ibu yang selalu memanggil anak-anaknya untuk
bersatu dalam kepakannya yang gagah perkasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar