Senin, 11 November 2013

HARMONI UTOPIA RATU ADIL, HARMONI YANG MASIH HARUS DIPERJUANGKAN



HARMONI UTOPIA RATU ADIL, HARMONI YANG MASIH HARUS DIPERJUANGKAN
(Meringkas Dari F. Budi Hardiman dalam HAM)
Figo Acm

Pada bagian ini Budi Hardiman sebenarnya mau mengarahkan kita semua untuk memahami etika harmoni (jawa) secara benar. Baginya terdapat perumusan yang belum sepenuhnya benar tentang etika harmoni. Etika harmoni tidak boleh dimengerti secara mutlak, sebab akan menghadirkan sikap fatalsitis, membuat individu bersikap pasif pada penindasan dan tekanan serta cenderung untuk bertahan pada tatanan yang sudah mapan. Magnis suseno pernah menyebutkan bahwa Sikap fatalistis ini tampak dalam kebiasaan untuk menerima segala sesuatu yang menimpa mereka tampa protes (nrima), membiarkan (rila) dan tampa kepentingan serta sabar (sepi ing pamrih). Penjelasan di atas tentang etika harmoni menurut Budi Hardiman hanyalah separu dari kebenaran. Menurut beliau bahwa dalam kenyataan, masyarakat jawa tidak selalu pasif seperti yang terungkap dalam etika harmoni tetapi mereka sering berlaku aktif misalnya sering melakukan pemberontakan-pemberontakkan (para petani), perjuangan kemerdekaan, protes melawan petinggi dan tuan-tuan kolonial
Pemahaman universal yang mapan tentang etika harmoni bisa dipatahkan jika ditilik dari kenyataan yang pernah terjadi dalam masyrakat jawa di atas. Kenyataan itu dalam bahasa Budi disebut sebagai momen. Ada momen yang mendekonstruksi prinsip-prinsip etika harmoni. Budi menyebutkannya sebagai momen utopis dan eskatologis. Pemberontakan yang sering terjadi dalam masyarakat jawa tidak  serta merta ditimbulkan oleh kesengsaraan ekonomis tetapi juga oleh utopia bahwa seoarang ratu adil akan hadir dan menegakkan keadilan. Pemberontakan karena sebuah utopia atau harapan. Harapan ini terus terpendam dan menjadi bagian dari etika harmoni yang mewarnai hidup dunia priyayi. Koentjaraningrat meyebutkan bahwa ide ini (utopia) merupakan reaksi untuk melawan etika harmoni atau cara hidup jawa. Utopia ini adalah kombinasi sinkretis dari unsur pribumi, budha dan islam. Abad 18 dan 19 muncul teks yang kemudian dikenal sebagai ramalan jayabaya tentang ratu adil. Seorang raja yang akan tampil di saat masyarakat berada dalam zaman edan (dekandensi, krisis moral, huru-hara), dialah yang akan memulihkan keadaan. Dan kepercayaan itu bertahan hingga kini serta mempengaruhi pemikiran orang jawa khususnya saat masyarakat ditindas atau terkena krisis.
Utopia akan ratu adil juga adalah konsepsi tentang harmoni tetapi dengan cara yang berbeda. Jika harmoni dalam etika harmoni dimengerti sebagai tatanan alamiah yang sudah ada sebelumya maka harmoni dalam ratu adil (utopia) adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Harmoni itu belum ada (yang ada adalah tatanan yang korup, harmoni yang melegitimasi tatanan yang menindas orang kecil). Menurut Sindhunata etika harmoni yang sudah dianggap mapan harus dimotifikasi karena banyak hal dalam etika harmoni yang tidak bisa diterima begitu saja oleh kaum miskin. Cita-cita tentang harmoni belum menjadi nyata bagi wong cilik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar