HARMONI UTOPIA RATU ADIL, HARMONI YANG MASIH HARUS DIPERJUANGKAN
(Meringkas Dari F. Budi Hardiman dalam HAM)
Figo Acm
Pada bagian ini Budi Hardiman sebenarnya mau
mengarahkan kita semua untuk memahami etika harmoni (jawa) secara benar. Baginya
terdapat perumusan yang belum sepenuhnya benar tentang etika harmoni. Etika harmoni
tidak boleh dimengerti secara mutlak, sebab akan menghadirkan sikap fatalsitis,
membuat individu bersikap pasif pada penindasan dan tekanan serta cenderung untuk
bertahan pada tatanan yang sudah mapan. Magnis suseno pernah menyebutkan bahwa Sikap
fatalistis ini tampak dalam kebiasaan untuk menerima segala sesuatu yang
menimpa mereka tampa protes (nrima), membiarkan (rila) dan tampa kepentingan
serta sabar (sepi ing pamrih). Penjelasan di atas tentang etika harmoni menurut
Budi Hardiman hanyalah separu dari kebenaran. Menurut beliau bahwa dalam
kenyataan, masyarakat jawa tidak selalu pasif seperti yang terungkap dalam
etika harmoni tetapi mereka sering berlaku aktif misalnya sering melakukan
pemberontakan-pemberontakkan (para petani), perjuangan kemerdekaan, protes
melawan petinggi dan tuan-tuan kolonial
Pemahaman universal yang mapan tentang etika
harmoni bisa dipatahkan jika ditilik dari kenyataan yang pernah terjadi dalam
masyrakat jawa di atas. Kenyataan itu dalam bahasa Budi disebut sebagai momen. Ada
momen yang mendekonstruksi prinsip-prinsip etika harmoni. Budi menyebutkannya
sebagai momen utopis dan eskatologis. Pemberontakan yang sering terjadi dalam
masyarakat jawa tidak serta merta
ditimbulkan oleh kesengsaraan ekonomis tetapi juga oleh utopia bahwa seoarang
ratu adil akan hadir dan menegakkan keadilan. Pemberontakan karena sebuah
utopia atau harapan. Harapan ini terus terpendam dan menjadi bagian dari etika
harmoni yang mewarnai hidup dunia priyayi. Koentjaraningrat meyebutkan bahwa
ide ini (utopia) merupakan reaksi untuk melawan etika harmoni atau cara hidup
jawa. Utopia ini adalah kombinasi sinkretis dari unsur pribumi, budha dan
islam. Abad 18 dan 19 muncul teks yang kemudian dikenal sebagai ramalan jayabaya
tentang ratu adil. Seorang raja yang akan tampil di saat masyarakat berada
dalam zaman edan (dekandensi, krisis moral, huru-hara), dialah yang akan
memulihkan keadaan. Dan kepercayaan itu bertahan hingga kini serta mempengaruhi
pemikiran orang jawa khususnya saat masyarakat ditindas atau terkena krisis.
Utopia akan ratu adil juga adalah konsepsi
tentang harmoni tetapi dengan cara yang berbeda. Jika harmoni dalam etika
harmoni dimengerti sebagai tatanan alamiah yang sudah ada sebelumya maka
harmoni dalam ratu adil (utopia) adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Harmoni
itu belum ada (yang ada adalah tatanan yang korup, harmoni yang melegitimasi
tatanan yang menindas orang kecil). Menurut Sindhunata etika harmoni yang sudah
dianggap mapan harus dimotifikasi karena banyak hal dalam etika harmoni yang
tidak bisa diterima begitu saja oleh kaum miskin. Cita-cita tentang harmoni
belum menjadi nyata bagi wong cilik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar